![]() |
| Gambar 01 Buletin Al-Ihsan Ponpes Al-Hilal Langensari Kota Banjar |
Di zaman semakin maju ini, seorang santri harus
memiliki intelektal yang tinggi. Di samping perkembangan teknologi yang semakin
pesat, santri harus menyeimbangkan antara kehidupan dunia dan kehidupan
akhirat. Seperti di dalam ayat al qur’an :
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan
Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan
bagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain)
sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat
kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang
berbuat kerusakan” (Al qashas :77 )
Di dalam ayat ini dijelaskan bahwa, seorang santri di
samping menekuni kajian keagamaan yang sangat kental, seperti: kajian kitab
kuning, moral,tata krama, tawadhu’ kepada mayikh, santri harus mengimbanginya
dengan kemampuan inteleknya. Yaitu dengan mengkolaborasikan pendidikan agama
dengan pendidikan umum. Karena jika santri hanya mengandalkan ilmu din (ilmu
pendidikan agama), akan sulit untuk bersaing di era globalisasi. Dengan ini,
untuk menghadapi persaingan yang semakin kompleks, diperlukan agama dan
teknologi. Sebab, agama adalah salah satu kebudayaan yang berlaku secara
universal. Agama tidak membedakan status para
pemeluknya. Setiap orang diwajibkan untuk menjalankan semua hal yang diperintahkan oleh agama dan menjauhi
segenap larangannya tanpa terkecuali. Agama juga tidak mengajarkan kejahatan kepada
pemeluknya. Teknologi juga berpengaruh, dengan adanya iptek perkembangan santri
terutam islam akan semakin maju. Karena iptek juga untuk menutupi keterbatasan
seorang santri.
Jika perkembangan iptek semakin maju, janganlah
melupakan adat pesantren . Karena sebagaian besar seorang santri yang sudah
berkaitan dengan zaman globalisasi, mereka tidak lagi menggunakan (mengamalkan
adat tradisional pesantren) seperti : tata krama kepada guru. Di zaman sekarang
jika sudah mengenal globalisasi, arus pemikiran akan condong kepada negara
barat. Karena kenapa, kita tidak usah mengoreksi yang jauh – jauh. Di
sekolahan , sekarang tata krama kepada guru jarang sekali, hanya beberapa
saja. Di kampus, mahasiswa enak – enak mengkrtik, mendebat seorang dosen. Padahal,
di ajaras pesantren tidak mengajarkan seperti itu, santri harus lebih
dominan kepada tawadhu’ kepada seorang guru. Dalam ajaran pesantren, tata krama
lebih di utamakan karena proses penyaringan ilmu, jika tidak diimbangi
dengan rasa tawadhu’ kepada guru(masayikh), maka akan sia – sia dalam talabul
ilmi. Karena santri di junjung tinggi untuk lebih meningkatkan moral dan
keimanan. Jika seorang santri cerdas, memiliki kemampuan intelektual yang
tinggi belum dikatakan berhasil jika tidak memiliki moral dan sopan santun.
Sebab, jika santri tidak memiliki akhlak, tatakrama dan tingkah laku. Walaupun
dia pandai, ketika terjun dimasyarakat apa yang terjadi? Ketika menjadi
pemimpin rakyat akan terombang – ambing karen di bodohi oleh pemimpinnya.
Ketika dia menjadi pemerintah, pasti tersangkut hal – hal yang negatif, entah
dicela rakyat, terlibat korupsi. Karena ilmu yang diperoleh salah kaprah, dan
akhlak, moral dan keimanan juga sangat penting, lebih penting dari pada orang
cerdas. Karena orang cerdas jika tidak memiliki akhlak, keimanan dan moral,
sama saja yang diperolehnya sia – sia. Begitu juga di era globalisasi,
akhlak,moral dan keimanan juga berperan penting bagi semua orang. Karena
iptek jika tidak diimbangi dengan akhlak, moral dan keimanan, ancaman
globalisasi yang mengitari kita akan mudah dipengaruhi khususnya pengaruh
barat.
Tetapi beda dengan sekarang, adat kepesantrenan jarang
digunakan. Ada tapi hanya dilingkungan yang agak jauh dari kota, di lingkungan
pesantren. Walaupun sebagian kecil dikota. Karena di era globalisasi ini, lebih
mengarah dunia barat. Semua aspek kehidupan di kuasai oleh barat. Salah
satunya pemikiran manusia, hampir dikendalikan oleh barat. Di kampus,
disana lebih mencondongkan ke arah diskusi yang menjurus ke debat.
Sehingga tidak jarang terjadi debat dengan dosennya karena dengan
temannya sudah merasa lebih menguasai. Dan hal ini tidak mengenal
tata krama kepada guru, karena mereka memandang saling berbagi pemikiran .
Karena pemikiran barat lebih mengarah zaman modern yaitu mengikuti pemikiran
ahli filsafat aristoteles, karena pemikirannya tentang logika. Orang barat
lebih mementingkan pemikiran dari pada keagamaan. Hal ini jauh dengan ajaran
yang dilakukan santri di pesantren. Pesantren lebih mementingkan
tawadhu’nya dari pada pemikirannya. Dan ajaran santri sebaliknya, tidak
mempelajari filsafat, mereka lebih memperdalam tasawuf. Dengan adanya ajaran
tasawuf ini santri ditekankan untuk memperdalam untuk lebih dekat kepada
allah. Lebih mementingkan kehidupan seorang sufi atau dalam bahasa pesantren
disebut tirakatan (nyalap). Dengan ajaran ini santri akan jauh mengikuti arus
globalisasi, bahkan akan semakin tertinggal memingat dikehidupan sekarang lebih
bersaing karena mengikuti alur budaya barat.
Untuk itu, seorang santri harus berhati – hati
dalam bersaing di zaman semakin maju. Alangkah baiknya jika ilmu yang diperoleh
dipesantren di amalkan. Begitu juga dengan iptek yang didapatnya, seorang
santri bisa dikatakan berhasil apabila mereka bisa menyebarkan agama islam dan
membuat pemikiran – pemikiran islam yang diimbangi dengan kemajuan iptek.
Sehingga umat islam akan semakin maju dan perkembang, dan bisa bersaing dengan
budaya barat. Islam sangat membutuhkan kader – kader yang berkualitas
dalam bidan agama maupun umum. Dengan keintektualan, tidak mungkin islam
menjadi tidak jaya. Bahkan akan membuat orang barat
tercengang, bahwa umat islam bisa menciptakan sesuatu yang baru. Tetapi sangat
sulit, karena di dalam realita sekarang ini mencari osang – orang intelek amat
jarang. Karena faktor pendidikan yang kurang memadai, orang – orang lebih
mementingkan gengsi,tren, gaya di zaman sekarang ini. Dan masyarakat sekarang
juga beranggapan bahwa hidup adalah uang. Tanpa uang hidup tidak adanya, ini
adalah salah besar. Mereka lebih berlomba- lomba untuk menadi orang kaya.
Dengan menjadi orang kaya, akan semakin bergairah dan lebih di hormati. Ini
memang salah besar. Karena islam tidak mengajarkan begitu, riwayat
abu hurairah R.A dalam hadits :
قل رسول الله
عليه وسلم : انظر الي من اسفل منكم و لا تنظروا الي من هو فوقكم فهو اجدر ان لا
اجدروا نعمةالله.رواه مسلم
“ Lihatlah orang (yang mendapat nikmat) lebih
sedikit dari pada kamu sekalian, dan janganlah kamu sekalian memandang kepada
orang (yang mendapat nikmat) lebih banyak dari pada kamu sekalian, maka itu
lebih baik untuk memudahkan dalam mensyukuri nikmat”.(H.R Muslim)
Di dalam kandungan hadits ini
menjelaskan, banyak orang yang enggan untuk mensyukuri nikmat allah, karena
orang – orang lebih memilih kesengan dari pada ”qanaah bil maujud(rela
apa adanya)”. Jika demikian ,bagimana islam berkembang dan bisa
bersaing di era globlisasi. Sebenarnya islam juga mengajarkan untuk
mensyukuri nikmat apa yang telah diperolehnya, walaupun Cuma sedikit. Dengan
cara inliah apa yang kita dapat akan bermanfaat di dunia maupun di
akhrat. Rasulullah menjelaskan tentang motifasi agar manusia dapat
menyukuri nikmat Allah. Diantaranya :
- Berprasangka baik kepada allah, walaupun apa yang diperoleh kurang memuaskan kita serahkan semua kepada allah.
- Luangkan waktu kita untuk merenungkan kebesaran allah, diwaktu kita mendapat nikmat maupun kita sedang di uji oleh allah
- Ketika kita sedang di uji oleh allah, kita harus mengintropeksi diri bahwa segala apa yang di uji oleh allah pasti ada maknanya. Kita resapi apa yang telah kita lakukan dan masukkan pikiran di dalam hati kita dengan perbanyak membaca istigfar.
Dengan
ini,ketika manusia sudah mengetahui cara mensyukuri nikmat. Manusia akan
semakin mudah dalam mengadapi era globalisasi. Begitu juga santri, perannya
juga penting dalam membangun budaya islam yang realistis, membangun, dan
meningkatkan kualitas. Sehingga umat islam tidak kaget dan canggung dalam
menghadapi era globalisasi


Tidak ada komentar:
Write komentar