SEPATAH KATA ►►Selamat Datang DiBlog resmi Yayasan Al-Inganah Pondok Pesantren AL-Hilal Kota Banjar

.

.

Selasa, 30 Mei 2017

PERAN SANTRI TERHADAP GLOBALISASI

Gambar 01 Buletin Al-Ihsan Ponpes Al-Hilal Langensari Kota Banjar


Di zaman semakin maju ini, seorang santri harus memiliki intelektal yang tinggi. Di samping perkembangan teknologi yang semakin pesat, santri harus menyeimbangkan antara kehidupan dunia dan kehidupan akhirat. Seperti  di dalam ayat al qur’an :
Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan” (Al qashas :77 )
Di dalam ayat ini dijelaskan bahwa, seorang santri di samping menekuni kajian keagamaan yang sangat kental, seperti: kajian kitab kuning, moral,tata krama, tawadhu’ kepada mayikh, santri harus mengimbanginya dengan kemampuan inteleknya. Yaitu dengan mengkolaborasikan pendidikan agama dengan pendidikan umum. Karena jika santri hanya mengandalkan ilmu din (ilmu pendidikan agama), akan sulit untuk bersaing di era globalisasi. Dengan ini, untuk menghadapi  persaingan yang semakin kompleks, diperlukan agama dan teknologi. Sebab, agama adalah salah satu kebudayaan yang berlaku secara universal. Agama tidak membedakan status para  pemeluknya. Setiap orang diwajibkan untuk menjalankan  semua hal yang diperintahkan oleh agama dan menjauhi segenap larangannya tanpa terkecuali. Agama juga tidak mengajarkan kejahatan kepada pemeluknya. Teknologi juga berpengaruh, dengan adanya iptek perkembangan santri terutam islam akan semakin maju. Karena iptek juga untuk menutupi keterbatasan seorang santri.
Jika perkembangan iptek semakin maju, janganlah melupakan adat pesantren . Karena sebagaian besar seorang santri yang sudah berkaitan dengan zaman globalisasi, mereka tidak lagi menggunakan (mengamalkan adat tradisional pesantren) seperti : tata krama kepada guru. Di zaman sekarang jika sudah mengenal globalisasi, arus pemikiran akan condong kepada negara barat. Karena kenapa, kita tidak usah mengoreksi yang  jauh – jauh. Di sekolahan , sekarang tata krama kepada guru jarang  sekali, hanya beberapa saja. Di kampus, mahasiswa enak – enak mengkrtik, mendebat seorang dosen. Padahal, di ajaras pesantren tidak mengajarkan  seperti itu, santri harus lebih dominan kepada tawadhu’ kepada seorang guru. Dalam ajaran pesantren, tata krama lebih di utamakan karena proses penyaringan ilmu, jika tidak diimbangi  dengan rasa tawadhu’ kepada guru(masayikh), maka akan sia – sia dalam talabul ilmi. Karena santri di junjung tinggi untuk lebih meningkatkan moral dan keimanan. Jika seorang santri cerdas, memiliki kemampuan intelektual yang tinggi belum dikatakan berhasil jika tidak memiliki  moral dan sopan santun. Sebab, jika santri tidak memiliki akhlak, tatakrama dan tingkah laku. Walaupun dia pandai, ketika terjun dimasyarakat apa yang terjadi? Ketika menjadi pemimpin rakyat akan  terombang – ambing karen di bodohi oleh pemimpinnya. Ketika dia menjadi pemerintah, pasti tersangkut hal – hal yang negatif, entah dicela rakyat, terlibat korupsi. Karena ilmu yang diperoleh salah kaprah, dan akhlak, moral dan keimanan juga sangat penting, lebih penting dari pada orang cerdas. Karena orang cerdas jika tidak memiliki akhlak, keimanan dan moral, sama saja yang diperolehnya sia –  sia. Begitu juga di era globalisasi, akhlak,moral dan keimanan juga berperan penting bagi semua orang. Karena iptek  jika tidak diimbangi dengan akhlak, moral dan keimanan, ancaman globalisasi yang mengitari kita akan mudah dipengaruhi khususnya pengaruh barat.
Tetapi beda dengan sekarang, adat kepesantrenan jarang digunakan. Ada tapi hanya dilingkungan yang agak jauh dari kota, di lingkungan pesantren. Walaupun sebagian kecil dikota. Karena di era globalisasi ini, lebih mengarah dunia barat. Semua aspek kehidupan di kuasai  oleh barat. Salah satunya pemikiran manusia, hampir dikendalikan oleh barat. Di kampus,  disana lebih mencondongkan ke arah diskusi  yang menjurus ke debat. Sehingga tidak  jarang terjadi debat dengan dosennya karena dengan temannya sudah merasa lebih menguasai.  Dan  hal ini tidak mengenal tata krama kepada guru, karena mereka memandang saling berbagi pemikiran . Karena pemikiran barat lebih mengarah zaman modern yaitu mengikuti pemikiran ahli filsafat aristoteles, karena pemikirannya tentang logika. Orang barat lebih mementingkan pemikiran dari pada keagamaan. Hal ini jauh dengan ajaran yang dilakukan santri di pesantren.  Pesantren lebih mementingkan tawadhu’nya dari pada pemikirannya. Dan ajaran santri sebaliknya, tidak mempelajari filsafat, mereka lebih memperdalam tasawuf. Dengan adanya ajaran tasawuf ini santri ditekankan untuk memperdalam  untuk lebih dekat kepada allah. Lebih mementingkan kehidupan seorang sufi atau dalam bahasa pesantren disebut tirakatan (nyalap). Dengan ajaran ini santri akan jauh mengikuti arus globalisasi, bahkan akan semakin tertinggal memingat dikehidupan sekarang lebih bersaing karena mengikuti alur budaya barat.
 Untuk itu, seorang santri harus berhati – hati dalam bersaing di zaman semakin maju. Alangkah baiknya jika ilmu yang diperoleh dipesantren di amalkan. Begitu juga dengan iptek yang didapatnya, seorang santri bisa dikatakan berhasil apabila mereka bisa menyebarkan agama islam dan membuat pemikiran – pemikiran islam yang diimbangi dengan kemajuan iptek. Sehingga umat islam akan semakin maju dan perkembang, dan bisa bersaing dengan budaya barat. Islam  sangat membutuhkan kader – kader yang berkualitas dalam bidan agama maupun umum. Dengan keintektualan, tidak mungkin islam menjadi tidak  jaya. Bahkan akan membuat  orang barat  tercengang, bahwa umat islam bisa menciptakan sesuatu yang baru. Tetapi sangat sulit, karena di dalam realita sekarang ini mencari osang – orang intelek amat jarang. Karena faktor pendidikan yang kurang memadai, orang – orang lebih mementingkan gengsi,tren, gaya di zaman sekarang ini. Dan masyarakat sekarang juga beranggapan bahwa hidup adalah uang. Tanpa uang hidup tidak adanya, ini adalah salah besar. Mereka lebih berlomba- lomba untuk menadi orang kaya. Dengan menjadi orang kaya, akan semakin bergairah dan lebih di hormati. Ini memang salah besar. Karena islam tidak mengajarkan begitu,  riwayat  abu hurairah  R.A dalam hadits :
قل رسول الله عليه وسلم : انظر الي من اسفل منكم و لا تنظروا الي من هو فوقكم فهو اجدر ان لا اجدروا نعمةالله.رواه مسلم
“ Lihatlah orang (yang  mendapat nikmat) lebih sedikit dari pada kamu sekalian, dan janganlah kamu sekalian memandang kepada orang (yang mendapat nikmat) lebih banyak dari pada kamu sekalian, maka itu lebih baik untuk memudahkan dalam mensyukuri nikmat”.(H.R Muslim)
Di dalam kandungan  hadits ini menjelaskan, banyak orang yang enggan untuk mensyukuri nikmat allah, karena orang – orang lebih memilih kesengan dari pada  ”qanaah bil maujud(rela apa  adanya)”. Jika demikian ,bagimana islam  berkembang dan bisa bersaing di era globlisasi. Sebenarnya islam  juga mengajarkan untuk mensyukuri nikmat apa yang telah diperolehnya, walaupun Cuma sedikit. Dengan cara inliah apa yang kita dapat akan bermanfaat di dunia maupun  di akhrat. Rasulullah menjelaskan tentang  motifasi agar manusia dapat menyukuri nikmat Allah. Diantaranya :
  1. Berprasangka baik kepada allah, walaupun apa yang diperoleh kurang memuaskan  kita serahkan semua kepada allah.
  2. Luangkan waktu kita untuk merenungkan kebesaran allah, diwaktu kita mendapat nikmat maupun kita sedang di uji oleh allah
  3. Ketika kita sedang di uji oleh allah, kita harus mengintropeksi diri bahwa segala apa yang di uji oleh allah pasti ada maknanya. Kita resapi apa yang telah kita lakukan dan masukkan pikiran di dalam hati kita dengan perbanyak membaca istigfar.
Dengan ini,ketika manusia sudah mengetahui cara mensyukuri nikmat. Manusia akan semakin mudah dalam mengadapi era globalisasi. Begitu juga santri, perannya juga penting dalam membangun budaya islam yang realistis, membangun, dan meningkatkan kualitas. Sehingga umat islam tidak kaget dan canggung dalam menghadapi era globalisasi

Tidak ada komentar:
Write komentar