SEPATAH KATA ►►Selamat Datang DiBlog resmi Yayasan Al-Inganah Pondok Pesantren AL-Hilal Kota Banjar

.

.

Advertisement

Rabu, 26 Juli 2017

[Syarh Rotibul Haddad] Tips Agar tidak Merasa Lebih Baik dari Orang Lain Sumber : http://www.ngaji.web.id/2017/01/syarh-rotibul-haddad-tips-agar-tidak.html#ixzz4nvpeL9Zw

[Syarh Rotibul Haddad] Tips Agar tidak Merasa Lebih Baik dari Orang Lain

Ngaji.web.id - C ara memandang orang lain untuk menghindari perasaan sombong, ujub, dan merasa lebih baik. Ingat ! Ini cara memandang or...
Disunnahkan Merapikan Jenggot dan Kumis
Misteri Tahapan Dan Hikmah Turunnya Al-Qur'an
Keutamaan Yang Dahsyat Membaca Shalawat Nabi
Ngaji.web.id - Cara memandang orang lain untuk menghindari perasaan sombong, ujub, dan merasa lebih baik. Ingat ! Ini cara memandang orang lain, bukan pandangan bagaimana seharusnya orang lain memandang kita, termuat di Kitab Syarh Rotibul Haddad;


فاعتقادك في نفسك أنك خير من غيرك جهل محض ، بل ينبغي أن لا تنظر إلى أحد إلا ترى أنه خير منك وأن الفضل له على نفسك
Keyakinanmu terhadap dirimu sendiri bahwa kamu lebih baik daripada orang lain itu adalah murni sebuah kebodohan. Sebaiknya kamu tidak memandang terhadap orang lain kecuali kamu melihatnya lebih baik pada dirimu dan segala keutamaan baginya, tidak bagimu.

ﻓﺎﻥ رأيت ﺻﻐﻴﺮﺍ ﻗﻠﺖ : ﻫﺬﺍ ﻟﻢ ﻳﻌﺺ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺍﻧﺎ ﻗﺪ ﻋﺼﻴﺖ ﻓﻼ ﺷﻚ ﺍﻧﻪ ﺧﻴﺮ ﻣﻨﻲ .
Jika kamu melihat anak kecil, maka ucapkanlah dalam hatimu, " anak ini belum bermaksiat kepada Allah, sedangkan diriku telah banyak bermaksiat kepadaNya. maka tidak diragukan lagi bahwa anak ini jauh lebih baik dariku ”.

ﻭﺍﻥ رأيت ﻛﺒﻴﺮﺍ ﻗﻠﺖ : ﻫﺬﺍ ﻗﺪ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﻗﺒﻠﻰ ﻓﻼ ﺷﻚ ﺍﻧﻪ ﺧﻴﺮ ﻣﻨﻲ .
Jika kamu melihat orang tua, maka ucapkanlah dalam hatimu, "dia telah beribadah kepada Allah jauh lebih lama dariku, maka tidak diragukan lagi bahwa dia lebih baik dariku ”.
ﻭﺍﻥ رأيت ﻋﺎﻟﻤﺎ ﻗﻠﺖ : ﻫﺬﺍ قد أﻋﻄﻲ ما لم أعط وبلغ ما لم أبلغ وعلم ما جهلت فكيف أكون مثله
Jika kamu melihat seorang yang berilmu, maka ucapkanlah dalam hatimu," orang ini telah diberi ilmu yang mana saya belum diberi, orang ini telah menyampaikan ilmu apa yang belum saya sampaikan, dan ia telah mengetahui apa yang tidak saya ketahui, bagaimana mungkin saya sama dengannya? (apalagi saya lebih baik darinya?)”.

ﻭﺍﻥ رأيت ﺟﺎﻫﻼ ﻗﻠﺖ : ﻫﺬﺍ قد ﻋﺼﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﺠﻬﻞ ﻭﺍﻧﺎ ﻋﺼﻴﺘﻪ ﺑﻌﻠﻢ فحجة الله علي آكد ﻭﻻ أﺩﺭﻱ ﺑﻤﺎ ﻳﺨﺘﻢ ﻟﻰ ﺍﻭ ﺑﻤﺎ ﻳﺨﺘﻢ ﻟﻪ .
Jika kamu melihat seorang yang bodoh, maka katakanlah dalam hatimu, " orang ini bermaksiat kepada Allah kerana dia bodoh (tidak tahu), sedangkan aku bermaksiat kepadaNya padahal aku mengetahui akibatnya. Dan aku tidak tahu bagaimana akhir umurku dan umurnya kelak .

ﻭﺍﻥ رأيت ﻛﺎﻓﺮﺍ ﻗﻠﺖ : ﻻ أﺩﺭﻱ ﻋﺴﻰ ﺍﻥ ﻳﺴﻠﻢ ﻓﻴﺨﺘﻢ ﻟﻪ ﺑﺨﻴﺮﺍﻟﻌﻤﻞ وينسل بإسلامه من ذنوبه كما تنسل الشعرة من العجين وأما أنا والعياذ بالله فعسى أن يضلني الله فأكفر ويختم لي بشر العمل فيكون غدا من المقربين وأنا من المبعدين .
Jika kamu melihat orang kafir, maka katakanlah dlm hatimu," aku tdk tau apa yang akan terjadi, bisa jadi dia memeluk islam, mengakhiri hidupnya dgn perbuatan baik, ia bebas dari dari dosa-dosanya. Sedangkan saya (wal 'iyadzu billah) mungkin Allah akan memberikan aku jalan sesat, lalu aku kafir dan aku mengakhiri hidupku dengan perbuatan buruk, maka kelak ia (orang kafir yang telah masuk Islam) termasuk orang-orang yang dekat denganNya, sedangkan aku termasuk orang-orang yang jauh dariNya ."

Sretttttt. Ada tambahan bahwa jika kita semua telah bisa memandang orang lain seperti apa yang termuat di atas, maka jangan lah sudah merasa tawadhu', walaupun memang pandangan yang semacam di atas adalah supaya bisa tawadhu', menghindari takabur. Jangan merasa sudah tawadhu'. 
Syaikh Ibnu Atalhoillah As-sakandari dalam Hikamnya mengatakan ;
من أثبت لنفسه تواضعا فهو متكبر حقا
"Barang siapa telah menetapkan/menyatakan dirinya telah tawadhu', maka ia adalah orang takabur yang sesungguhnya"

[Kang Mang li]

Selasa, 25 Juli 2017

Keutamaan Orang yang Pergi Menuntut Ilmu

Ilmu agama merupakan hal yang sangat penting bagi setiap Muslim. Dengannya seorang Muslim bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Ilmu agama juga akan memberikan tuntunan kepada setiap Muslim kepada jalan yang diridhai oleh Allah dan RasulNya. Ilmu agama yang diamalkan dengan baik tentu akan menjadikan pemiliknya bahagia di dunia dan di akhirat.
Firman-firman Allah Ta’ala dan Sunnah-Sunnah NabiNya shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya bisa diketahui dengan ilmu. Dan ilmu tersebut tidaklah datang kepada seseorang dengan sendirinya. Seseorang yang ingin memiliki ilmu, maka ia harus pergi mencari dan mempelajarinya dari orang-orang yang berilmu. Dan tentu saja, hal ini membutuhkan pengorbanan dan kesabaran, dan hanya orang-orang yang diberikan petunjuk oleh Allah sajalah yang mau bersabar dan berkorban dalam rangka menuntut ilmu.
Di dalam Islam, setiap pengorbanan yang dilakukan oleh seorang Muslim dalam rangka beramal shalih pasti akan ada balasan pahala dan kebaikan yang banyak. Sekecil apa pun pengorbanan itu, Allah pasti akan membalasnya, bahkan balasannya sering kali lebih besar dari apa yang dilakukannya.
Salah satu amal shalih yang membutuhkan pengorbanan dalam mengerjakannya adalah menuntut ilmu. Pengorbanan tersebut bisa berupa meluangkan waktu atau menyisihkan rezekinya untuk bisa hadir di dalam majelis-majelis ilmu. Sebenarnya pengorbanan tersebut tidak seberapa jika bandingkan dengan pengorbanan orang-orang di zaman dahulu dalam menuntut ilmu. Yang mana dahulu, mereka rela berjalan bermil-mil dan menempuh waktu berhari-hari atau bahkan berbulan-bulan hanya untuk bisa mendapatkan ilmu agama dari guru-guru mereka. Sedangkan di zaman sekarang, alhamdulillah, segala kemudahan telah Allah berikan kepada kita dan hal ini wajib kita syukuri. Dan salah satu bentuk mensyukurinya adalah dengan memanfaatkan kemudahan tersebut untuk hal-hal yang bernilai kebaikan, seperti pergi menuntut ilmu.
Perlu diketahui bahwa setiap dari kita adalah penuntut ilmu, baik itu yang tua ataupun yang muda, baik laki-laki maupun perempuan, semuanya wajib menuntut ilmu. Dan perlu diketahui pula, bahwa menuntut ilmu agama tidak harus di pondok pesantren, namun bisa juga di masjid dan tempat lainnya yang di sana ada majelis ilmu yang mengajarkan Al-Quran dan As-Sunnah dengan benar.
Agar lebih termotivasi dan lebih semangat dalam belajar ilmu agama, ada baiknya kita mengetahui beberapa keutamaan yang akan diberikan kepada orang-orang yang menempuh jalan atau pergi menuntut ilmu. Di antara keutamaan tersebut adalah sebagai berikut.

1. Dimudahkan jalannya menuju surga

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
“Dan barangsiapa yang menempuh suatu jalan dalam rangka menuntut ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR Muslim dan yang lainnya. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani di dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib no. 84.)

2. Para malaikat ridha apa yang dikerjakannya

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَا مِنْ خَارِجٍ يَخْرُجُ مِنْ بَيْتِهِ يَطْلُبُ الْعِلْمَ إِلَّا وَضَعَتْ لَهُ الْمَلائِكَةُ أَجْنِحَتَهَا، رِضًا بِمَا يَصْنَعُ
“Tidaklah seseorang itu keluar dari rumahnya untuk menuntut ilmu, kecuali malaikat pasti meletakkan (mengepakkan) sayap-sayapnya karena ridha dengan apa yang dilakukannya.” (HR At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib no. 85.)

3. Mendapatkan pahala haji secara sempurna

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ لَا يُرِيدُ إِلَّا أَنْ يَتَعَلَّمَ خَيْرًا أَوْ يُعَلِّمَهُ كَانَ كَأَجْرِ حَاجٍّ تَامًّا حَجَّتُهُ
“Barangsiapa yang pergi menuju masjid, dia tidak bermaksud kecuali untuk belajar kebaikan atau untuk mengajarkannya, maka baginya pahala seperti berhaji secara sempurna.” (HR Ath-Thabrani, hadits ini dinilai hasan shahih oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib no. 86.)

4. Kedudukannya seperti orang-orang yang berjihad di jalan Allah

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ جَاءَ مَسْجِدِي هَذَا لَمْ يَأْتِهِ إِلَّا لِخَيْرٍ يَتَعَلَّمُهُ أَوْ يُعَلِّمُهُ، فَهُوَ بِمَنْزِلَةِ الْمُجَاهِدِيْنَ فِي سَبِيلِ اللهِ، وَمَنْ جَاءَ بِغَيْرِ ذَلِكَ فَهُوَ بِمَنْزِلَةِ الرَّجُلِ يَنْظُرُ إِلَى مَتَاعِ غَيْرِهِ
“Barangsiapa yang mendatangi masjidku ini (yaitu Masjid An-Nabawi) tidaklah ia datang kecuali untuk kebaikan yang akan dipelajari atau diajarkannya, maka ia berada di kedudukan seperti orang-orang yang berjihad di jalan Allah. Dan barangsiapa yang datang dengan niat selain itu, maka kedudukannya laksana seorang laki-laki yang hanya memandang-mandang barang (perbekalan) saudaranya.” (HR Ibnu Majah dan Al-Baihaqi. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib no. 87.)
Di dalam hadits yang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ خَرَجَ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللهِ حَتَّى يَرْجِعَ
“Barangsiapa keluar (dari rumahnya) dalam rangka menuntut ilmu, maka ia berada di jalan Allah hingga ia pulang.” (HR At-Tirmidzi, hadits ini dinilai hasan li ghairihi oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib no. 88.)
Demikianlah beberapa hadits yang menunjukkan dengan jelas tentang keutamaan yang akan diberikan kepada orang-orang yang pergi atau menempuh suatu jalan dalam rangka belajar ilmu agama. Marilah kita luangkan waktu kita untuk bisa menghadiri majelis-majelis ilmu yang di dalamnya diajarkan Al-Quran dan As-Sunnah dengan benar, agar keutamaan-keutamaan tersebut bisa kita raih.
Referensi:
Shahih At-Targhib wa At-Tarhib, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani

Mbah Kyai Musyafa’ Orang “Gila” yang Penuh Karomah

Kota Kaliwungu, tepatnya di wilayah Kecamatan Kaliwungu, Kendal Jawa Tengah, tampak sangat anggun bila dilihat dari bukit yang terletak di Desa Proto Mulyo, sebelah timur Kampung Gadukan, Kutoarjo, Kaliwungu. Masjid Al-Muttaqin yang berada di pusat kota terlihat sangat dominan dan lebih besar dibanding bangunan lain yang ada di sekitarnya. Menara dan kubah masjid tampak sangat kukuh, seperti menegaskan betapa Allah SWT Mahabesar.
Dari ketinggian bukit itu, tampak kecantikan kota Kaliwungu yang mempesona. Disana terdapat makam alim ulama dan para penyiar agama Islam tempo dulu. Masyarakat menyebutnya sebagai makam Jabal (bukit), sebuah kawasan perbukitan. Salah seorang ulama besar yang dimakamkan disana adalah Kiai Musyafa’ bin Haji Bahram.
Seperti halnya makam wali-wali yang lain, makam Mbah Syafa’, demikian beliau biasa disapa, inipun  kerap dikunjungi para peziarah, terlebih pada hari Kamis wage sore dan Jumat Kliwon. Pada kedua hari tersebut, ratusan bahkan ribuan peziarah datang kesana. Santri dari beberapa pesantren juga kerap menjadikannya sebagai tempat untuk melaksanakan riadah.
Selama hidup (antara tahun 1920 – 1969), Mbah Syafa’ dikenal sebagai sosok yang zuhud. Ia sangat sederhana, baik dalam berpakaian maupun dalam bertutur kata. Kesederhanaannya dalam berpakaian, membuat sebagian orang menganggap Mbah Syafa’ sebagai Kiai yang sangat miskin. Tidak jarang orang juga mengatakan bahwa Mbah Syafa’ adalah orang gila, karena ia memang kerap berperilaku Khawariqul Adah, yaitu berperilaku diluar kebiasaan manusia pada umumnya.
Anggur Mekkah
Sangkaan orang bahwa Mbah Syafa’ adalah orang gila sudah terdengar sebelum masyarakat mengetahui karomah dan kewaliannya. Pada suatu hari tetangga disekitar rumah Mbah Syafa’ di bikin geger. Pasalnya setelah musim haji, ada seorang haji yang datang ke sana, ia mengaku di titipi anggur oleh seseorang di Mekah untuk diserahkan kepada Mbah Syafa’, yang baru saja menunaikan ibadah haji di Mekah. Padahal tetangga Mbah Syafa’ menyaksikan sendiri, selama musim haji itu Mbah Syafa’ berada di rumahnya.
Sejak itu pandangan orang pada dirinya berubah, apalagi setelah karomah-karomahnya disaksikan orang-orang disekitarnya. Suatu saat Mbah Syafa’ menjamu tamu yang datang. Masing-masing tamu menuang sendiri air minum dari ceret yang sudah disediakan. Anehnya air minum yang berasal dari satu ceret itu di rasakan berbeda-beda oleh tamu yang minum.
Dalam kisah yang lain, sekitar tahun 1060-an, Mbah Syafa’ kedatangan seorang tentara. Tentara itu bermaksud memohon restu, karena sebagai pembela negara dia mendapat tugas ikut dalam rombongan pasukan Trikora yang akan membebaskan Irian Jaya dari pendudukan Belanda. Saat dia sampai di tempat tinggal Mbah Syafa’, dan mengemukakan maksudnya, Mbah Syafa’ tidak menjawab sepatah kata pun. Beliau hanya mengambil sebuah wajan yang telah di bakar hingga merah membara.
Oleh Mbah Syafa’ wajan itu di dekatkan ke kepala orang tersebut sambil dipukul beberapa kali. Sesaat kemudian beliau masuk kedalam rumah dan keluar dengan membawa tiga buah biji randu (Klentheng), lantas menyerahkannya pada orang itu. Orang tersebut tidak mengerti apa maksud Mbah Syafa’, namun ia tetap menyimpan biji randu pemberian Mbah Syafa’.
Di belakang hari, isyarat tersebut bisa diketahui setelah kapal yang ditumpangi tentara Indonesia hancur di tengah laut. Namun atas izin Allah orang tersebut selamat.
Dalam kisah yang lain diceritakan pada 1940an, suatu hari Mbah Syafa’ menggali tanah hingga dalam. Orang-orang disekitarnya merasa heran dengan apa yang dikerjakannya itu. Sebagian mengira tempat itu akan digunakan untuk memelihara ikan, sebagian yang lain menyangka akan dibuat sumur.
Setelah beberapa saat, orang baru sadar bahwa Mbah Syafa’ mengetahui peristiwa yang bakal terjadi belakangan. Karena tidak lama berselang, tentara Jepang menyerbu daerah Kaliwungu, dan lubang itu dipergunakan sebagai tempat persembunyian orang-orang yang ada di sekitarnya.
Berbagai peristiwa aneh terjadi termasuk setelah ia meninggal dunia pada 13 Maret 1969 (seperti yang tertulis pada nisannya). Suatu ketika saat sedang membersihkan Balai Desa Krajan Kulon, Mbah Rasyid, tukang sapu kantor tersebut, ditemui  Mbah Syafa’ tanpa berbincang apapun. Mbah Syafa’ memberinya uang seribu rupiah, padahal ia telah meninggal dunia.
Anehnya, ketika sudah dibelanjakan, uang itu tetap utuh dan tetap ada di saku Mbah Rasyid begitu ia sampai di rumah. Hal itu berulang hingga tiga kali, membuat gundah Mbah Rasyid. Hatinya baru tenang setelah uang itu ia kembalikan ke kuburan Mbah Syafa’.

Kisah Ulama’Kharismatik Cicit Mbah Kholil Bangkalan

Tentang KH KHolilurrahman
Seorang ulama dari Bangkalan, Jawa Timur. Ra Lilur dalam maqom jadab (suatu tahapan untuk mencapai tingkat karamah (keistimewaan) yang biasanya disebut wali,

Membakar Pondok Pesantren
Suatu ketika Ra Lilur tiba-tiba membakar bangunan pondok pesantren yang diasuh KH. Abdullah Schaal Bangkalan Madura. Pesantren yang lokasinya berdekatan dengan masjid Jami’ dan alun-alun kota Bangkalan itu pun hangus dilalap api. Anehnya, Kiai Abdullah Schaal yang dikenal sangat berpengaruh di Bangkalan itu diam saja. Ia tak bereaksi, apalagi marah.
Mungkin Kiai Abdullah Schaal paham terhadap keistimewaan Ra Lilur sehingga ia lalu diam saja, meski pondoknya dibakar Ra Lilur. Yang pasti, kiai Abdullah Schaal sendiri tampak sangat hormat terhadap Ra Lilur sebab Ra Lilur memiliki keistimewaan kasyaf luar biasa. Bahkan kabarnya Ra Lilur sering memberi isyarat-isyarat kepada Kiai Abdullah terutama tentang peristiwa-peristiwa yang akan terjadi. Biasanya, kalau menyangkut persoalan besar, Ra Lilur minta Kiai Abdullah Schaal hati-hati.
Setelah gubuk santri di pesantrennya dibakar, pesantren Kiai Abdullah Schaal semakin maju pesat. Bilik-bilik santri yang semula berupa gubuk-gubuk kini dibangun mentereng. Bahkan pesantren putri yang menyatu dengan tempat istirahat Kiai Schaal persis hotel. Bangunannya megah dan menjulang tinggi, penuh tingkat. Siapa pun yang tak pernah ke Madura akan mengira bangunan itu hotel, karena memang didesain cukup artistik.
Wallahu A’lam Bishshowab. Setelah kejadian Ra Lilur membakar pesantren itu kemudian terjadi peristiwa naas yang menimpa bangsa ini. Banyak terjadi aksi pembakaran di mana-mana, Aksi anarki pembakaran ini terjadi mengiringi konflik politik yang terus berkepanjangan di negeri ini. Misalnya pembakaran pertokoan, kantor-kantor partai politik, dan banyak lagi. Isyarat Ra Lilur itu kian kongkrit ketika terjadi pembakaran yang dilakukan orang-orang Dayak terhadap gubuk-gubuk orang Madura yang mengungsi dari Sampit dan Sambas.

Gus Dur Diganti Megawati
Isyarat itu muncul sekitar akhir tahun 2000. Jadi jatuh sebelum Gus Dur benar-benar jatuh. Saat itu perilaku aneh Ra Lilur muncul secara tak terduga. Ia tiba-tiba selalu diikuti dan ditempel oleh istrinya (nyai) kemanapun pergi. Mau pergi kemanapun, ia terus dibuntuti oleh sang bu nyai.
Selain itu, Ra Lilur selalu tidur satu kamar dengan istrinya. Namun anehnya, Ra Lilur tidak tidur dalam satu tempat tidur (lencak, bahasa Madura, red). Ia tidur terpisah dengan istrinya, meski dalam satu kamar. Lebih aneh lagi, istrinya tidur diatas ranjang, sedangkan Ra Lilur malah selalu tidur di tanah (Ra Lilur tidur di bawah), sedang istri beliau di atas
Isyarat perilaku nyeleneh Ra Lilur itu terjawab sangat jelas. Indonesia akhirnya terjadi pergantian kepemimpinan, dari Presiden pria Gus Dur) ke Presiden wanita (Megawati). Isyarat ini masih bisa dirinci lagi dalam kontek kekeluargaan. Yaitu istri hakikatnya wakil atau pembantu suami dalam keluarga. Perilaku aneh itu merupakan isyarat pergantian kepemimpinan dari pria ke pemimpin wanita. Sayangnya, waktu itu tak ada yang tanggap terhadap isyarat yang terjadi lewat perilaku aneh Ra Lilur itu. atau karena masyarakat kurang peka atau karena isyarat aneh itu hanya diketahui kalangan terbatas. Yang pasti, isyarat itu cukup nyata dan jelas.

Mengenakan Pakaian Serba Merah
Menjelang pemilu 1999, Ra Lilur tiba-tiba mengenakan pakaian serba merah. Bajunya berwarna merah. Begitu ikat kepalanya, berwarna merah. Lebih unik lagi, ia memakai sarung wanita yang juga berwarna merah pada menjelang Pemilu. Ternyata isyarat itu kemudian terbukti. PDIP yang warna kebesarannya merah menjadi pemenang Pemilu. Kalau Ra Lilur memakai pakaian serba merah semata ingin menunjukkan bahwa pemenang pemilu 1999 adalah PDIP. Ra Lilur berasal dari keluarga fanatik NU dan PKB. Bahkan semua anggota keluarganya pengurus dan warga PKB. Begitu juga keluarga ndalem Ra Lilur, baik dari haddam (pembantu) sampai keluarga intinya, pendukung berat PKB.

Masuk Hutan Pada Bulan Puasa
Ra Lilur bersama banyak orang masuk hutan pada bulan puasa. Begitu tiba di dalam hutan ternyata adzan maghrib bergema. Orang-orang bingung. Sebab tak ada makanan sama sekali untuk buat buka. Ra Lilur mengisyaratkan agar tak resah. Tanpa diduga tiba-tiba terhampar tikar semacam permadani. Yang menakjubkan, di atas tikar itu tersedia berbagai macam makanan. Karuan saja orang-orang itu heran. Meski demikian mereka tetap saja lahap berbuka puasa.

Menguasai Ilmu Kedokteran
Seorang dokter dari Malaysia bersama seseorang yang bertindak sebagai pengantar sengaja datang untuk menemui Ra Lilur. Dokter itu diajak Ra Lilur masuk ke dalam bilik rumahnya. Pembicaraan Ra Lilur dengan Dokter itu cukup lama, sekitar satu jam. Sehingga pengantar dokter itu mengaku capek menunggu di luar.
Menurut pengakuan sang dokter, Ra Lilur ternyata menguasai ilmu kedokteran secara luar biasa. Semua ilmu kedokteran dia pahami. Yang membuat si dokter kaget, Ra Lilur memberikan sebuah foto berukuran poscard dengan pakaian putih lengkap dengan stetoskop tergantung di leher. Sang dokter heran menerima foto Ra Lilur. “Kalau dipikir, kapan beliau berpose seperti itu,” katanya.

Bersama Habib Dari Mojokerto
Habib Ali Zainal Abidin Bin Anis Al Muchdor (kelahiran Jember) pernah menyaksikan keajaiban Ra Lilur. Tiga tahun lalu, dirinya bersama istrinya, MN Hidayah, melanglang buana. Habib penasaran ingin bertemu Ra Lilur. Ketika sampai di kediaman Ra Lilur, Habib diterima ajudan Ra Lilur dan langsung mengutarakan maksud kedatangannya. Tak lama kemudian, ajudan Ra Lilur mengatakan “Kiai tidak bisa menemuinya sekarang”, kata ajudan.
Habib semakin penasaran. Namun Habib tak langsung pergi begitu saja. Sambil merenung bagaimana caranya bertemu Ra Lilur. Habib kemudian pergi ke sebelah samping rumah Ra Lilur. Saat berjalan di bawah rimbun bambu, Habib teringat pesan salah satu gurunya untuk membaca Al-Fatihah di tujukan kepada Nabi Muhammad SAW, para wali, dan Syaikhona Kholil Bangkalan. Habib itu kemudian mengamalkan perintah tersebut di tutup dengan permintaan saya, kalau kamu Ra Lilur memang cucu Kiai Kholil, keluarlah, kata Habib.
Masyaallah. Tiba-tiba pundak Habib ada yang menepuk, Karuan saja Habib terkejut dan menoleh, ternyata Ra Lilur. Ra Lilur berkata, ” Sudah lama kita tak bertemu. Kamu yang saya tunggu beberapa hari ini.” Habib Ali semakin tak percaya bahwa dirinya merasa tak pernah bertemu dengan Ra Lilur.
Setelah itu Ra Lilur mengajak Habib duduk di atas gubug di tengah sawah. Saat itu mereka ditemani salah satu ajudan Ra Lilur. Tiba-tiba Ra Lilur berkata “Silakan susunya diminum.” Padahal tak ada pelayan yang mengantarkan. Ajudan yang tadi menemani juga tak beranjak pergi.

Nelayan dan Jaringnya
Seorang nelayan di Kecamatan Sepulu sontak kaget. Karena jaring dia tebar di tengah laut tiba-tiba terasa berat ketika diangkat. Nelayan tersebut Harap-harap cemas menarik jaringnya. Dalam pikirannya, ini pasti ikan besar. Begitu jaring itu berhasil diangkat ke atas. Nelayan itu kaget dan tertegun, Masyaallah, ternyata bukan ikan, melainkan tubuh Ra Lilur yang sedang membujur. Kontan nelayan itu menceburkan kembali tubuh Ra Lilur ke laut.
Nelayan menduga, jangan-jangan Ra Lilur telah meninggal karena tenggelam di laut. Tapi dugaan nelayan itu meleset. Karena Ra Lilur sehat wal-afiat, tubuhnya tetap segar bugar sampai kini.
Menyaksikan kenyataan itu, nelayan semakin percaya bahwa Ra Lilur itu waliyullah (kekasih Allah Swt). Sejak peristiwa itu hasil tangkapan nelayan tersebut langsung melimpah. Setiap kali turun melaut, hasil tangkapannya lebih banyak dari pada nelayan lainnya. Nelayan pun yakin bahwa dirinya telah mendapat barokah. Yakni terus bertambahnya kebaikan. Bukankah orang menyebut barakah sebagai zidayatul khoir (semakin bertambahnya kebaikan).

Obat Maag Dan Puyer
Salah seorang warga pernah sakit tak komplikasi penyakit dalam stadium akut. Bahkan sang pasien sudah hampir satu bulan opname di salah satu rumah sakit swasta di Surabaya. Karena terapi penyembuhan kedokteran tak ada perkembangan mengembirakan. Salah seorang anggota keluarga pasien memutuskan untuk minta barokah La Lilur. “Kiai memberikan obat maaq dan obat puyer sakit kepala, setelah diminum Alhamdulillah sembuh,” tegas Salim, saudara si pasien menjelaskan.

Pil Mencret Atau Murus
Seorang penduduk desa terpencil sedih karena kehilangan sapi. yang merupakan satu-satunya harta paling berharga bagi keluarganya. Karena ingin sapinya kembali, dia sowan ke kediaman Ra Lilur untuk minta barokah agar sapinya bisa kembali lagi. Ra Lilur langsung menemui tamunya tersebut itu.
Padahal, tamu yang silaturrahmi ke Ra Lilur, biasanya baru bisa ketemu minimal setelah tiga kali silaaturrahmi. Tapi, kali ini aneh. Ra Lilur malah dengan senang hati membantu orang yang malang itu.
Warga yang kehilangan seekor sapi itu diberi pil mencret atau murus. Tentu saja orang itu bingung dan dongkol. Sebelum pulang pil itu tetap diminum sesuai petunjuk Ra Lilur. Meski demikian ia tetap saja pikirannya tak bisa menerima.
Di tengah perjalanan menuju rumahnya, tiba-tiba perutnya mules. Orang malang tersebut pergi ke sungai untuk membuang hajat.
Ajaib, orang itu melihat beberapa ekor sapi ditambatkan di semak-semak di sekitar sungai itu. Ketika diperiksa, salah satu sapi yang ditambatkan itu adalah miliknya. Ia girang bukan main. Namun di balik kegirangan itu ia juga merasa berdosa. Orang itu menyesal karena hatinya sempat dongkol pada Ra Lilur ketika diberi obat murus.

Pengusaha Besi Kapok Datang
Seorang pengusaha besi tua bernama H. Hasan yang tinggal di Cililitan Jakarta silaturrahmi ke rumah Ra Lilur. Pengusaha itu disambut ajudan sekaligus dihadapkan kepada Ra Lilur. Hasan lantas menceritakan masalahnya. Ra Lilur mendengar semua cerita Hasan. Namun yang membuat Hasan tak habis pikir, ketika hendak pulang, ia diberi obat sakit kepala Paramex.
Dengan diliputi tanda tanya, Hasan pulang ke rumahnya di Jakarta naik bus, dalam perjalanan H Hasan terus berpikir mau diapakan obat ini. Kenapa pula kiai memberi saya ini, gumam Hasan dalam hatinya.
Seminggu kemudian, H. Hasan ternyata tertimpa musibah. Usahanya rugi Rp 100 juta. Isyarat Ra Lilur itu terjawab, “Rupanya itu maksud kiai memberi obat,” kata Hasan tersenyum kecut. Sebulan kemudian, H. Hasan mendapat kabar dari saudaranya di Tanah Merah, Madura bahwa abahnya (ayah, red) terbaring sakit keras di atas pembaringan. Hasan pun bergegas pergi menemui abahnya.
Hasan lantas menemui guru abahnya, yaitu Habib Sholeh Tanggul, Jember. Habib Sholeh Tanggul meminta H. Hasan membawa tasbih. Tasbih itu, selain untuk wirid juga sangat manjur untuk mengobati orang sakit. Sesuai dengan pesan guru, tasbih itu dicelupkan ke dalam segelas air. Selanjutnya, air bekas celupan itu diminumkan kepada orang yang sakit. Semula, penyakit itu memang berkurang. Badan abahnya sedikit enakan. Tapi itu tidak berlangsung lama. Beberapa waktu kemudian, bapaknya kembali jatuh sakit. H. Hasan pun segera beranjak pergi meminta do’a kepada Ra Lilur. Yang tak membuat H. Hasan heran lagi, ketika Ra Lilur, memberinya kapas, berikut minyak telon. Itu diberikan ketika H. Hasan hendak pulang.
Seperti sebelumnya, dalam perjalanan menuju rumah orang tuanya di Tanah Merah, hati H. Hasan, diliputi tanda tanya yang hebat. Begitu tiba di rumah abahnya, ia mendapati banyak orang menangisi kepergian orang tua lelakinya itu. Rupanya, kapas dan minyak telon itu, sebagai perlambang bahwa penyakit orang tuanya tak dapat disembuhkan. Akhirnya H. Hasan pengusaha besi tua tersebut kapok bertemu Ra Lilur lagi.

Menikahi Wanita Penjemur Ikan
Di kawasan pesisir Bangkalan ada seseorang wanita yang sehari-harinya membersihkan ikan. Wanita itu tak ubahnya seorang buruh. Ia tiap hari membersihkan dan menjemur ikan milik orang. Ia hanya dapat upah sekian rupiah dari jerih payahnya itu. Kesibukan di kawasan pesisir itu membuat orang tak pernah memperhatikan wanita itu. Apalagi wanita itu memang tampil seperti umumnya buruh. Masyarakat baru tahu wanita yang sehari-harinya membersihkan ikan dan berpenampilan seperti umumnya buruh itu dinikahi Ra Lilur.
Berita pernikahan Ra Lilur dengan wanita itu tersebar, masyarakat seolah tak percaya dan mulai bertanya-tanya, dari mana asalnya wanita tersebut. Sebab meski setiap hari bertemu dan berkumpul masyarakat di sekitar pesisir itu tak ada yang tahu asal muasal wanita tersebut. Masyarakat pun mulai geger. Wanita itu dianggap misterius karena tak diketahui asal usulnya.
Begitu masyarakat heboh tiba-tiba muncul informasi bahwa wanita tersebut berasal dari kesultanan Demak. Karuan saja masyarakat kembali ramai. Akhirnya masyarakat di sekitar pesisir itu yakin bahwa wanita itu berasal dari Demak. Yang juga unik wanita itu tetap sederhana meski dinikahi Ra Lilur. Padahal ia telah jadi istri orang terhormat dan disegani masyarakat. Bahkan Ra Lilur bukan saja disegani masyarakat tapi juga dihormati para ulama. Toh istri Ra Lilur tetap bersahaja. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya ia berjualan es lilin. Dagangannya itu kadang dijajakan kepada para santri KH. Abdullah Schaal di Pesantren Syaikhona Kholil Bangkalan.

Tiga Buah Korma Penawar Obat
Ra Lilur ternyata tak hanya piawai mendeteksi masa depan. Tapi ahli mengobati orang sakit. Tak aneh jika banyak tamu yang minta tolong untuk mengobati penyakitnya. Salah satunya, seorang kiai asal Surabaya yang sudah puluhan tahun mengidap penyakit aneh.
Kiai ini sudah melanglang buana berkonsultasi dengan berbagai ahli, baik ahli medis, maupun paranormal. Tapi hasilnya nol besar. Bahkan pernah juga berkonsultasi ke KH. Ghofur, pengasuh ponpes Sunan Drajat Paciran Lamongan. Juga gagal.
Namun kiai ini terus berikhtiar sembari tetap pasrah. Di tengah-tengah kepasrahan itulah, tiba-tiba timbul wisik-wisik dari seorang tamu yang agak aneh. Tamu itu menyarankan, agar meminta barokah ke Ra Lilur. Tanpa pikir panjang, maka berangkatlah rombongan kiai itu ke tempat pedepokan Ra Lilur di sebuah desa Banjar kecamatan Galis Kabupaten Bangkalan. Ra Lilur langsung menemuinya. “Lenggi-lenggi pada parlo napa (mari silakan duduk, ada maksud apa ke sini),” sapanya. Kiai ini langsung mengutarakan niatnya serta menceritakan perjalanannya berobat ke mana-mana, namun hasilnya nihil.
Mendengar keluhan itu, Ra Lilur langsung memberi tiga buah korma dari dalam rumahnya. “Da’ar pa tada’ (silakan makan dihabiskan),” kata Ra Lilur.
Saat dialog itu tak begitu cair sebab Ra Lilur memang sering memperlihatkan suasana yang sulit ditebak. Kadang-kadang tertawa, tapi kadang-kadang tak banyak bicara. Mungkin saat itu, Ra Lilur paham, betapa menderitanya kiai ini lantaran merasakan sakit menahun.
Usai menyuguhkan tiga korma, Ra Lilur memberi wejangan, agar kiai tadi, berobat ke seorang dokter kiai di sebuah kawasan sekitar Pasar Turi Surabaya. Kenapa disebut dokter kiai, karena dokter itu, selain memberi obat, juga memberi bacaan-bacaan. Alhamdulillah, penyakit menahun kiai sederhana itu akhirnya berangsur-angsur sembuh.

Penolakan Sopir Terhadap Ra Lilur
Ini merupakan peringatan keras kepada siapa saja yang melakukan tindakan konyol dengan berkata kasar dan membohongi Ra Lilur. Kalau hal tersebut dilakukan, bisa-bisa naas seperti peristiwa yang dialami seorang sopir pick up.
Menurut ajudan Ra Lilur, H. Husni mengatakan, Husni bersama Ra Lilur melakukan perjalanan dari Kecamatan Sepuluh menuju Desa Banjar Galis Bangkalan Madura. Di tengah perjalanan, motor yang ditumpangi macet karena mengalami kerusakan pada bagian mesin. Karena tak bisa memperbaiki, Husni memutuskan untuk beristirahat seraya menunggu tumpangan untuk Ra Lilur. Beruntung, setelah beberapa menit beristirahat, ada sebuah mobil pick up melintas di sebuah jalan desa. Ra Lilur kemudian meminta agar ajudannya menyetop mobil itu untuk ikut. Namun setelah dicegat, sang sopir berkata kalau mobilnya tidak dibuat angkutan. “Lok muwak (tidak mau muat, red),” kata sang sopir dengan kasar.
Karena ditolak, Husni kembali istirahat sembari menunggu tumpangan yang lain. Ternyata setelah beberapa meter dari tempat istirahat, mobil yang dicegatnya tadi mengangkut beberapa karung kedondong milik pedagang. Setelah kejadian itu, Husni tidak pernah berpikir apa yang akan terjadi pada sang sopir di balik kata-kata kasar dan bohong yang diucapkan kepada seorang kiai waliyullah itu.
Beberapa bulan berikutnya, Ra Lilur berniat untuk melakukan perjalanan keliling kota Bangkalan. Seperti biasa, Ra Lilur memerintahkan ajudannya untuk mencari mobil tumpangan. Tapi anehnya, sebelum diperintah mencari mobil, Ra Lilur berpesan agar memilih mobil pick up deretan ketiga dari belakang.
Perjalanan pun dilakukan, setelah sampai di daerah pesisir barat Kecamatan Socah, Bangkalan, Ra Lilur berhenti. Ia langsung melakukan perjalanan ke tengah laut. “Saya tidak tahu kemana kiai berjalan. Tapi beliau terus berjalan hingga tidak kelihatan,” kata Husni.
Ditengah penantian tersebut, Husni ngobrol dengan sopir pick up yang menjadi pilihan Ra Lilur. Ternyata, sang sopir bercerita panjang lebar soal peristiwa yang pernah dialami temannya yang juga sopir pick up itu. Dikatakan, setelah sopir pertama menolak permintaan Ra Lilur dengan kata-kata kasar dan bohong, dia terus mengalami banyak peristiwa sial. Mula-mula hasil uang dari nyopir itu selalu habis hanya untuk membayar biaya tilang polisi. Berikutnya, dia terus mengalami sakit yang tak kunjung sembuh hingga akhirnya meninggal. “Mantuan (paman haji, red), sopir pertama yang pegang mobil ini meninggal setelah menolak permintaan kiai,” kata sopir itu lirih.
Mendengar penjelasan itu, Husni teringat peristiwa yang pernah dialaminya. Ternyata, Ra Lilur memilih mobil pick up pada deret ketiga itu merupakan tebusan dari penolakan sopir yang pernah berkata kasar itu. Karena sopir yang berkata kasar itu dulu juga menyopir mobil yang sekarang dipakai itu.

Aparat Menangis
Anggota Polri berpangkat Perwira Menengah (Pamen) berpangkat Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) datang ke kiai yang dikenal punya kasaf itu untuk minta tolong. Pamen rela bepergian tengah malam dengan sepeda motor menuju desa Banjar untuk menemui Ra Lilur dengan maksud minta tolong agar ditunjukkan tempat persembunyian Tommy. Namun Ra Lilur  sulit ditemui.
Sebelum menyampaikan keinginannya, selama tiga malam berturut-turut petinggi polri itu melakukan wirid dan mengaji sampai menangis ketika membaca Al-qur’an di mushallah milik H. Husni.
Ra Lilur mengatakan, untuk memburu Tommy sangat sulit, karena memang ada yang membuatnya sulit.
Dari jawaban Ra Lilur itu tersirat bahwa Tommy memang ada yang melindungi. Karena itu mudah dipahami jika beberapa pihak ragu terhadap upaya polisi menangkap Tommy. Bahkan kini muncul analisis bahwa gerakan aparat yang mau menangkap Tommy itu sekedar basa-basi belaka, yakni untuk meredam kekecewaan atau mengalihkan perhatian masyarakat dari persoalan politik di tubuh Polri sendiri maupun seputar di Mega.
Perilaku Ra Lilur kian aneh. Sudah dua minggu, Ra Lilur mengunci diri di sebuah gubuk di atas gunung. Bahkan pintu pagarnya pun digembok. Sehingga, tamu yang hendak sowan ke Ra Lilur sulit untuk bertemu. “Ra Lilur berkomunikasi hanya dengan tulisan tangan saja. Tapi kiai hanya memberikan tulisan atau barang,” ujar haddam yang sudah mengabdi sejak tahun 1989 ini.
Sumber : http://suramadunews.blogspot.com/2012/01/ra-lilur-waliyullah-asal-bangkalan_20.html

Sabtu, 22 Juli 2017

Mengenal Ulama Kharismatik Asal Indonesia Yang menjadi Mufti diMekah " Syekh Nawawi Al-bantani "

Nama Syeikh Nawawi al-Bantani sejak lama dikenal sebagai salah satu ulama besar yang pernah dilahirkan bumi nusantara. Penguasaan Syeikh Nawawi terhadap berbagai displin ilmu agama yang meliputi fikih, tasawuf, tauhid, tafsir dan hadits membuat namanya masyhur hingga kota Mekah, Arab Saudi.
Syeikh Nawawi memiliki nama asli Abu Abdul Mu’ti Muhammad Nawawi bin ‘Umar bin ‘Arabi. Syeikh Nawawi lahir di desa Tanara, kecamatan Tirtayasa, Serang, Banten pada tahun 1230 H atau 1813 M. Buah dari pernikahan seorang Ulama Banten, ‘Umar bin ‘Arabi dengan Zubaedah. Syeikh Nawawi diketahui merupakan salah satu dari keturunan Syarif Hidayatullah yang lebih dikenal sebagai Sunan Gunung Jati dari Cirebon.
Sejak kecil, kecerdasan Syeikh Nawawi lebih menonjol di antara teman-teman seusianya. Melihat potensi yang dimiliki Syeikh Nawawi, membuat sang ayah mensekolahkan Syeikh Nawawi kecil ke sejumlah pesantren di pulau Jawa. Memasuki usia 15 tahun, Syeikh Nawawi melanjutkan pendidikan agama ke  kota Mekkah, Arab Saudi.
Di Mekah, Syeikh Nawawi berguru kepada sejumlah ulama besar seperti Abdul Hamîd Daghestani, Syeikh Muhammad Khatib Hambali, Syeikh Ahmad Dimyati, Syeikh Ahmad Zaini Dahlan dan Syeikh Sayyid Ahmad Nahrawi. Tidak hanya itu saja, Syeikh Nawawi juga belajar agama dengan dua ulama besar Madinah, yaitu Syeikh Ahmad Zaini Dahlan dan Syeikh Muhammad Khatib dan .
Syeikh Nawawi sempat kembali ke tanah air untuk mengajarkan ilmu agama yang telah beliau kuasai. Sayang, situasi dan kondisi tanah air yang bergejolak akibat penjajahan Belanda. Pihak Belanda mencemaskan kehadiran Syeikh Nawawi di Banten bakal kembali menggelorakan semangat pemberontakan, Situasi ini membuat Syeikh Nawawi memutuskan untuk kembali menyingkir ke kota Mekkah.
Nama Syeikh Nawawi mulai masyhur saat beliau memutuskan membuka balai pengajaran di halaman rumahnya yang terletak di Syi’ib ‘Ali, Mekah. Dari berawal hanya segelintir murid, namun lamban-laun jumlah muridnya terus bertambah. Nama Syeikh Nawawi tidak hanya terkenal di kota Mekah dan Medinah saja. Kemasyhuran nama Syeikh Nawawi bahkan hingga mencapai negeri para Nabi, Mesir. Sehingga tidak heran Mesir menjadi salah satu negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia.
Meski terhalang jarak yang jauh, tidak menghilangkan kecintaan Syeikh Nawawi kepada Indonesia. Beliau pun terus mengobarkan semangat nasionalisme kepada para muridnya yang berasal dari Indonesia. Sejumlah ulama besar Indonesia yang menjadi pahlawan Indonesia merupakan murid dari Syeikh Nawawi. Seperti Kyai Hasyim Asy’ari (Pendiri Nahdhatul Ulama), Kyai Ahmad Dahlan (Pendiri Muhammadiyah), Kyai Khalil Bangkalan dan Kyai Asnawi Kudus.
Yang membuat nama Syeikh Nawawi terus hidup hingga saat ini tidak terlepas dari produktifitasnya dalam mengarang puluhan kitab agama yang mencakup bidang fiqih, tauhid, tasawwuf, tafsir, dan hadis. Jumlah kitab yang telah beliau karang mencapai 115 kitab. Sejumlah kitab karangan Syeikh Nawawi di antaranya adalah: Sullam al-Munajah (syarah Safinah al-Shalah) dan Nashaih al-‘Ibad (syarah al-Manbahatu ‘ala al-Isti’dad li yaum al-Mi’ad).
Tidak hanya itu saja, Tafsir Al-Munir, Kasyf al-Maruthiyyah (syarah Matan al-Jurumiyyah), Tanqih al-Qaul al-Hatsits (syarah Lubab al-Hadits), Madarij al-Shu’ud (syarah Maulid al-Barzanji), Fath al-Majid (syarah al-Durr al-Farid), Kasyifah al-Saja (syarah Safinah al-Naja) dan ‘Uqud al-Lujain fi Bayan Huquq al-Zaujain juga merupakan karangan dari Syeikh Nawawi.
Sejumlah pakar tafsir menilai kitab tafsir karangan Syeikh Nawawi, Tafsir al-Munir lebih baik dari kitab Tafsir Jalalain yang dikarang oleh dua ulama besar, Imam Jalaluddin al-Suyuthi dan Imam Jalaluddin al-Mahalli yang sangat terkenal itu. Sementra itu kitab fiqih karangan beliau, ’Uqûd al-Lujain fi Bayân Huqûq al-Zaujain menjadi kitab rujukan utama bagi para santri di sejumlah pesantren di Indonesia selama hampir seabad.
Atas pemahaman mendalamnya tersebut, Syeikh Nawawi mendapat gelar al-Sayyid al-‘Ulama al-Hijaz (Tokoh Ulama Hijaz/Jazirah Arab). Seorang ulama asal Mesir, Syeikh Umar Abdul Jabbar memasukkan nama Syeikh Nawawi dalam kitabnya “Al-Durus min Madhi al-Ta’lim wa Hadlirih bi al-Masjidil al-Haram. Kitab tersebut berisi kajian masa lalu dan masa kini tentang pendidikan di Masjidil Haram.
Syaikh Nawawi al-Bantani al-Jawi menikah dengan gadis asal Tanara, Nyai Nasimah. Buah dari pernikahanya tersebut, Syeikh Nawawi dikaruniai 3 anak: Nafisah, Maryam, Rubi’ah.

Syeikh Nawawi wafat di Mekah pada tanggal 25 syawal 1314 H/ 1897 M. Tapi ada pula yang mencatat tahun wafatnya pada tahun 1316 H/ 1899 M. Syeikh Nawawi dimakamkan di lokasi pemakaman Ma’la yang terletak di Mekah. Makam beliau bersebelahan dengan makam putri Khalifah Islam pertama Sayyidina Abu Bakar al-Siddiq, Asma binti Abu Bakar al-Siddîq.
Salah Satu Karomah Syeikh Nawawi
Salah satu karamah Syeikh Nawawi terjadi saat makamnya hendak dipindahkan oleh pemerintah Arab Saudi. Seperti diketahui, pemerintah Arab Saudi mengeluarkan kebijakan bahwa jenazah yang telah dimakamkan selama setahun, harus digali. Dan jenazah yang telah berubah menjadi tulang-belulang dipindahkan ke tempat lain di luar kota. Selanjutnya liang lahat yang kosong tersebut akan digantikan oleh jenazah baru.
Namun hal yang tak lazim terjadi saat petugas makam menggali makam Syeikh Nawawi. Mereka tidak menemukan tulang belulang seperti biasanya, melainkan jasad yang masih utuh dan tidak ditemukan tanda-tanda pembusukan seperti lazimnya jenazah yang telah lama dikubur. Bahkan kain putih kafan penutup jasad beliau tidak sobek dan tidak lapuk sedikitpun.
Kejadian ini membuat pemerintah Arab Saudi mengeluarkan kebijakan khusus dengan kembali menutup makam Syeikh Nawawi seperti sediakala. Hingga saat ini, makam beliau tetap berada di Ma’la, Mekah.

Kamis, 13 Juli 2017

Kisah Syekh Barseso Ahli Ibadah Yang Mati Kafir

 Ini satu kisah yang patut kita renungkan baik-baik. Kebanyakan kaum muslimin mengira bahwasanya yang menentukan seseorang itu masuk ke dalam surga ataukah tidak adalah ditentukan semata-mata dari amalannya. Artinya, apabila amalannya baik dan benar maka pastilah dia akan masuk surga. 
Anggapan seperti ini sebenarnya tidaklah bisa disalahkan secara mutlak, dan tidak pula bisa dianggap benar secara mutlak pula. Sebabnya adalah karena adanya firman Allah subhanahu wa ta’ala yang menerangkan bahwa amalan shalih merupakan penyebab masuknya kaum mukminin ke dalam surga. Di antaranya adalah firman Allah ta’ala:
وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
“Diserukan kepada mereka: “ltulah surga yang diwariskan kepadamu, disebabkan apa yang dahulu kamu kerjakan.” [QS Al A’raf: 43]
Allah juga berfirman:
كَذَلِكَ يَجْزِي اللَّهُ الْمُتَّقِينَ (31) الَّذِينَ تَتَوَفَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ طَيِّبِينَ يَقُولُونَ سَلَامٌ عَلَيْكُمُ ادْخُلُوا الْجَنَّةَ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
“Demikianlah Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka): “Salamun ‘alaikum, masuklah kalian ke dalam surga disebabkan apa yang telah kalian kerjakan.” [QS An Nahl: 31-32] 
Makanya Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam mengingatkan,
إِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ عَمَلَ أَهْلِالْجَنَّةِ فِيمَا يَبْدُو لِلنَّاسِ وَهُوَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ وَإِنَّالرَّجُلَ لَيَعْمَلُ عَمَلَ أَهْلِ النَّارِ فِيمَا يَبْدُو لِلنَّاسِ وَهُوَمِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ
”Sesungguhnya akan ada orang yang beramal dengan amalan yangmenurut pandangan orang sebagai amalan ahli surga padahal sebenarnya dia ahlineraka. Ada pula orang yang menurut pandangan manusia dia beramal dengan amalanahli neraka padahal dia adalah ahli surga.” (HR Al Bukhari dalam Shahih-nya no. 2898 dari Sahl bin Sa’d Radhiyallahu ‘Anhu).
Namun ada sebuah hadits shahih yang menerangkan bahwa amalan seseorang itu tidaklah bisa memasukkan dirinya ke dalam surga. Hadits tersebut datang dari Abu Hurairah ra, bahwasanya Rasulullah bersabda:
لَنْ يُدْخِلَ أَحَدًا عَمَلُهُ الْجَنَّةَ قَالُوا وَلَا أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ لَا وَلَا أَنَا إِلَّا أَنْ يَتَغَمَّدَنِي اللَّهُ بِفَضْلٍ وَرَحْمَةٍ
“Amalan seseorang itu tidak akan bisa memasukkannya ke dalam surga.” Para sahabat bertanya: “Tidak juga anda, wahai Rasulullah?” Nabi menjawab: “Tidak pula aku, akan tetapi Allah telah melimpahkan keutamaan dan rahmat-Nya kepadaku.” [HR Al Bukhari (5673) dan Muslim (2816)]
Hadits di atas menerangkan bahwa amalan seseorang itu bukanlah penyebab bagi seseorang untuk masuk ke dalam surga. Bahkan termasuk amalan Rasulullah ‎ sendiri bukanlah itu yang menyebabkan beliau masuk surga. Hanya saja Allah telah menjamin beliau pasti akan masuk surga berkat kemurahan dan rahmat dari Allah subhanahu wa ta’ala.
Semua telah Ditakdirkan
حَدَّثَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ الصَّادِقُ المَصْدُوقُ، «إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا، ثُمَّ يَكُونُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُونُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَبْعَثُ اللَّهُ إِلَيْهِ مَلَكًا بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ، فَيُكْتَبُ عَمَلُهُ، وَأَجَلُهُ، وَرِزْقُهُ، وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيدٌ، ثُمَّ يُنْفَخُ فِيهِ الرُّوحُ، فَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ، حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ، فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الجَنَّةِ فَيَدْخُلُ الجَنَّةَ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الجَنَّةِ، حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ، فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الكِتَابُ، فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ، فَيَدْخُلُ النَّارَ»
Telah bercerita kepada kami Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan ialah orang yang jujur serta berita yang dibawanya adalah benar: ""Setiap orang dari kalian telah dikumpulkan dalam penciptaannya ketika berada di dalam perut ibunya selama empat puluh hari kemudian menjadi 'alaqah (zigot) selama itu pula kemudian menjadi mudlghah (segumpal daging) selama itu pula kemudian Allah mengirim malaikat yang diperintahkan dengan empat ketetapan (dan dikatakan kepadanya), tulislah amalnya, rezekinya, ajalnya, sengsara serta bahagianya, lalu ditiupkan ruh kepadanya. Dan sungguh seseorang akan ada yang beramal dengan amal-amal penghuni neraka hingga tak ada jarak antara dirinya dengan neraka kecuali sejengkal saja lalu ia didahului oleh catatan (ketetapan taqdirnya) hingga dia beramal dengan amalan penghuni surga kemudian masuk surga, dan ada juga seseorang yang beramal dengan amal-amal penghuni surga hingga tak ada jarak antara dirinya dengan surga kecuali sejengkal saja, lalu dia didahului oleh catatan (ketetapan taqdirnya) hingga dia beramal dengan amalan penghuni neraka lalu dia masuk neraka. [HR. Bukhari no.3332 dan Muslim no.2643]
Perlu difahami bahwa ini tidak berarti bahwa Allah ta'ala mendholimi hambanya yang bertahun-tahun banyak melakukan kebaikan, akan tetapi ada makna lain yang tidak nampak di dhohir hadits tersebut yaitu orang yang termasuk ahli neraka itu melakukan amalan kebaikan hanya dhohirnya saja, adapun batinnya maka niatnya tidaklah murni karena Allah ta'ala. Kesimpulan ini didasarkan pada hadits lain yang diriwayatkan oleh imam Bukhari juga:
عَنْ سَهْلٍ، قَالَ: التَقَى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالمُشْرِكُونَ فِي بَعْضِ مَغَازِيهِ، فَاقْتَتَلُوا، فَمَالَ كُلُّ قَوْمٍ إِلَى عَسْكَرِهِمْ، وَفِي المُسْلِمِينَ رَجُلٌ لاَ يَدَعُ مِنَ المُشْرِكِينَ شَاذَّةً وَلاَ فَاذَّةً إِلَّا اتَّبَعَهَا فَضَرَبَهَا بِسَيْفِهِ، فَقِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا أَجْزَأَ أَحَدٌ مَا أَجْزَأَ فُلاَنٌ، فَقَالَ: «إِنَّهُ مِنْ أَهْلِ النَّارِ»، فَقَالُوا: أَيُّنَا مِنْ أَهْلِ الجَنَّةِ، إِنْ كَانَ هَذَا مِنْ أَهْلِ النَّارِ؟ فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ القَوْمِ: لَأَتَّبِعَنَّهُ، فَإِذَا أَسْرَعَ وَأَبْطَأَ كُنْتُ مَعَهُ، حَتَّى جُرِحَ، فَاسْتَعْجَلَ المَوْتَ، فَوَضَعَ نِصَابَ سَيْفِهِ بِالأَرْضِ، وَذُبَابَهُ بَيْنَ ثَدْيَيْهِ، ثُمَّ تَحَامَلَ عَلَيْهِ فَقَتَلَ نَفْسَهُ، فَجَاءَ الرَّجُلُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: أَشْهَدُ أَنَّكَ رَسُولُ اللَّهِ، فَقَالَ: «وَمَا ذَاكَ». فَأَخْبَرَهُ، فَقَالَ: «إِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الجَنَّةِ، فِيمَا يَبْدُو لِلنَّاسِ، وَإِنَّهُ لَمِنْ أَهْلِ النَّارِ، وَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ، فِيمَا يَبْدُو لِلنَّاسِ، وَهُوَ مِنْ أَهْلِ الجَنَّةِ»‎
Dari Sahal ia berkata; Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berhadapan dengan Kaum Musyrikin di peperangan beliau, lalu mereka saling menyerang. Kemudian masing-masing pasukan bergabung dengan bala tentara mereka. Sementara diantara Kaum Muslimin terdapat seseorang yang tidak menyisakan seorang musyrik pun kecuali ia terus mengejarnya untuk dipenggal dengan pedangnya. Seseorang berkata; "Wahai Rasulullah, tidak ada seorangpun yang mendapat ganjaran pahala sebagaimana yang didapat si fulan." Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sungguh orang itu termasuk penduduk neraka." Mereka balik bertanya; "Kalau begitu siapa diantara kami yang menjadi penduduk surga bila orang seperti ini termasuk penduduk neraka?." Kemudian seorang laki-laki dari kaum Muslimin berkata; "Aku akan mengikutinya". Maka dia mengikuti orang tersebut, hingga ketika dia mempercepat langkah atau memperlambatnya, aku selalu bersamanya. Akhirnya dia mendapatkan luka parah, kemudian ia ingin segera mati, dia meletakkan pedangnya di tanah dan ujung pedangnya diletakkah diantara dua dadanya, lalu dia menekannya, akhirnya dia membunuh dirinya sendiri. Maka orang yang mengikutinya tadi pergi menemui Nabi shallallahu 'alaihi wasallam seraya berkata; "Aku bersaksi bahwa tuan adalah benar-benar utusan Allah". Beliau bertanya: "Kenapa kamu berkata begitu?". Orang itu mengabarkan kepada beliau. Beliau lalu bersabda: "Sesungguhnya ada seseorang yang beramal dengan amalan penduduk surga berdasarkan yang nampak oleh manusia padahal dia dari penduduk neraka. Dan ada seseorang yang mengamalkan amalan penduduk neraka berdasarkan yang nampak oleh manusia padahal dia dari penduduk surga." [HR. Bukhari no. 4207]
Kisah Kyai Barsesho‎
قال ابن عباس في قوله تعالى : كمثل الشيطان : كان راهب في الفترة يقال له : برصيصا ; قد تعبد في صومعته سبعين سنة ، لم يعص الله فيها طرفة عين ، حتى أعيا إبليس ، فجمع إبليس مردة الشياطين فقال : ألا أجد منكم من يكفيني أمر برصيصا ؟ فقال الأبيض ، وهو صاحب الأنبياء ، وهو الذي قصد النبي صلى الله عليه وسلم في صورة جبريل ليوسوس إليه على وجه الوحي ، فجاء جبريل فدخل بينهما ، ثم دفعه بيده حتى وقع بأقصى الهند فذلك قوله تعالى : ذي قوة عند ذي العرش مكين فقال : أنا أكفيكه ; فانطلق فتزيا بزي الرهبان ، وحلق وسط رأسه حتى أتى صومعة برصيصا فناداه فلم يجبه ; وكان لا ينفتل من صلاته إلا في كل عشرة أيام يوما ، ولا يفطر إلا في كل عشرة أيام ; وكان يواصل العشرة الأيام والعشرين والأكثر ; فلما رأى الأبيض أنه لا يجيبه أقبل على العبادة في أصل صومعته ; فلما انفتل برصيصا من صلاته ، رأى الأبيض قائما يصلي في هيئة حسنة من هيئة الرهبان ; فندم حين لم يجبه ، فقال : ما حاجتك ؟ فقال : أن أكون معك ، فأتأدب بأدبك ، وأقتبس من عملك ، ونجتمع على العبادة ; فقال : إني في شغل عنك ; ثم أقبل على صلاته ; وأقبل الأبيض أيضا على الصلاة ; فلما رأى برصيصا شدة اجتهاده وعبادته قال له : ما حاجتك ؟ فقال : أن تأذن لي فأرتفع إليك . فأذن له فأقام الأبيض معه حولا لا يفطر إلا في كل أربعين يوما يوما واحدا ، ولا ينفتل من صلاته إلا في كل أربعين يوما ، وربما مد إلى الثمانين ; فلما رأى برصيصا اجتهاده تقاصرت إليه نفسه . ثم قال الأبيض : عندي دعوات يشفي الله بها السقيم والمبتلى والمجنون ; فعلمه إياها . ثم جاء إلى إبليس فقال : قد والله أهلكت الرجل . ثم تعرض لرجل فخنقه ، ثم قال لأهله - وقد تصور في صورة الآدميين - : إن بصاحبكم جنونا أفأطبه ؟ قالوا : نعم . فقال : لا أقوى على جنيته ، ولكن اذهبوا به إلى برصيصا ، فإن عنده اسم الله الأعظم الذي إذا سئل به أعطى ، وإذا دعي به أجاب ; فجاءوه فدعا بتلك الدعوات ، فذهب عنه الشيطان . ثم جعل الأبيض يفعل بالناس ذلك ويرشدهم إلى برصيصا فيعافون . فانطلق إلى جارية من بنات الملوك بين ثلاثة إخوة ، وكان أبوهم ملكا فمات واستخلف أخاه ، وكان عمها ملكا في بني إسرائيل فعذبها وخنقها . ثم جاء إليهم في صورة رجل متطبب ليعالجها فقال : إن شيطانها مارد لا يطاق ، ولكن اذهبوا بها إلى برصيصا فدعوها عنده ، فإذا جاء شيطانها دعا لها فبرئت ; فقالوا : لا يجيبنا إلى هذا ; قال : فابنوا صومعة في جانب صومعته ثم ضعوها فيها ، وقولوا : هي أمانة عندك فاحتسب فيها . فسألوه ذلك فأبى ، فبنوا صومعة ووضعوا فيها الجارية ; فلما انفتل من صلاته عاين الجارية وما بها من الجمال فأسقط في يده ، فجاءها الشيطان فخنقها فانفتل من صلاته ودعا لها فذهب عنها الشيطان ، ثم أقبل على صلاته فجاءها الشيطان فخنقها وكان يكشف عنها ويتعرض بها لبرصيصا ، ثم جاءه الشيطان فقال : ويحك ! واقعها ، فما تجد مثلها ثم تتوب بعد ذلك . فلم يزل به حتى واقعها فحملت وظهر حملها . فقال له الشيطان : ويحك ! قد افتضحت . فهل لك أن تقتلها ثم تتوب فلا تفتضح ، فإن جاءوك وسألوك فقل جاءها شيطانها فذهب بها . فقتلها برصيصا ودفنها ليلا ; فأخذ الشيطان طرف ثوبها حتى بقي خارجا من التراب ; ورجع برصيصا إلى صلاته . ثم جاء الشيطان إلى إخوتها في المنام فقال : إن برصيصا فعل بأختكم كذا وكذا ، وقتلها ودفنها في جبل كذا وكذا ; فاستعظموا ذلك وقالوا لبرصيصا : ما فعلت أختنا ؟ فقال : ذهب بها شيطانها ; فصدقوه وانصرفوا . ثم جاءهم الشيطان في المنام وقال : إنها مدفونة في موضع كذا وكذا ، وإن طرف ردائها خارج من التراب ; فانطلقوا فوجدوها ، فهدموا صومعته وأنزلوه وخنقوه ، وحملوه إلى الملك فأقر على نفسه فأمر بقتله . فلما صلب قال الشيطان : أتعرفني ؟ قال : لا والله ، قال : أنا صاحبك الذي علمتك الدعوات ، أما اتقيت الله أما استحيت وأنت أعبد بني إسرائيل ثم لم يكفك صنيعك حتى فضحت نفسك ، وأقررت عليها وفضحت أشباهك من الناس ، فإن مت على هذه الحالة لم يفلح أحد من نظرائك بعدك . فقال : كيف أصنع ؟ قال : تطيعني في خصلة واحدة وأنجيك منهم وآخذ بأعينهم . قال : وما ذاك ؟ قال : تسجد لي سجدة واحدة ; فقال : أنا أفعل ; فسجد له من دون الله . فقال : يا برصيصا ، هذا أردت منك ; كان عاقبة أمرك أن كفرت بربك ، إني بريء منك ، إني أخاف الله رب العالمين 
Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu menceritakan, ada seorang ahli zuhud bernama Barshisha. Dia beribadah dalam kuil selama tujuh puluh tahun yang tidak pernah bermaksiat sedikitpun. dia seorang pimpinan sebuah pesantren di kala itu, karena saking shalehnya dengan ijin Allah subhanahu wa ta'ala telah di beri kemampuan di atas rata-rata manusia pada umumnya, semisal dia bisa berjalan di atas air, bisa terbang layaknya burung, dan masih banyak lagi lainnya. Dia mempunyai santri-santri yang jumlahnya sangat banyak, mencapai puluhan ribu santri. 
Karena dengan keshalehannya itu membuat setan/iblis menjadi gusar ingin menjerumuskannya. Sebab sifat setan/iblis memang ingin selalu menyesatkan orang-orang yang beriman menjadi kufur (ingkar) kepada Allah Azza wa Jalla, dengan segala upaya dan tipu daya mereka. Seperti terkandung dalam Surah Al-A'raf ayat 16-17 :
قَالَ فَبِمَآ أَغْوَيْتَنِى لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَٰطَكَ ٱلْمُسْتَقِيمَ
ثُمَّ لَءَاتِيَنَّهُم مِّنۢ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَٰنِهِمْ وَعَن شَمَآئِلِهِمْ ۖ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَٰكِرِينَ
"Iblis menjawab : "Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat)."
Setelah itu para setan/iblis sepakat mengutus salah-satu darinya untuk menyamar menjadi santri baru di pesantren yang Barseso pimpin. Semua orang di pesantren itu tak terkecuali Barseso tidak tahu bahwa santri baru tersebut sebenarnya adalah jelmaan setan/iblis laknatullah. Hanya Allah Subhanahu wa ta'ala saja Yang Maha Mengetahui apa-apa yang terjadi di muka bumi ini.
Santri baru tersebut dengan tekunnya beribadah untuk mengelabuhi orang-orang di sekitarnya. Saat yang lain shalat, si setan/iblis tersebut mengikutinya, begitu pula melakukan ibadah-ibadah yang lain. Bahkan ibadahnya tampak seolah-olah melebihi santri-santri yang lain. Sehingga menjadi perbincangan di kalangan mereka. Dan suatu saat kabar tersebut terdengar oleh si Barseso.
Maka demi mengetahui yang sebenarnya, Barseso mulai mengamati gerak-gerik si santri baru tersebut. Saat barseso dan para santrinya shalat, si santri tersebut ikut melakukannya, sampai-sampai yang lainnya termasuk Barseso selesai melakukan shalat dan zikir-zikir, bahkan si santri itu masih belum selesai juga ibadahnya. Tidak juga dalam hal lain, saat Barseso sehabis selesai melakukan ibadah-ibadah yang lain, sewaktu sebelum tidur Barseso masih melihat si santri masih tekun beribadah. Bahkan setelah tidur untuk bangun melaksanakan shalat Qiyamul lail (tahajud) Barseso masih juga melihat santrinya tersebut masih melaksanakan shalat malam.
Singkat cerita Barseso mengagumi santrinya itu dalam ketaatannya beribadah. Sampai suatu hari Barseso bertanya kepada santrinya itu, "Kamu begitu tekun beribadah melebihi aku dalam melaksanakannya, apa yang menjadikan kamu menjadi begitu ?", Si santri menjawab : "Saya melaksanakan begini karena saya pernah berbuat dosa besar, dan sekarang sungguh sangat menyesalinya, maka untuk itu saya sekarang tekun beribadah, jadi kalau belum pernah melakukan dosa besar, pastilah belum mau bertobat seperti saya ini" Si Santri memulai ancang-ancang menjerumuskannya. Barseso bertanya lagi : "Dosa apa gerangan yang membuat kamu bisa menjadi seperti sekarang ini?"  Santri menimpalinya : "Membunuh seseorang". Barseso, kaget mendengar jawaban dari si santri tersebut. Santri itu melanjutkan jawabannya, "Kalau Kyai mau membunuhlah orang dulu, agar bisa taat seperti saya ini." Santri ini mulai menebar perangkapnya. Dan Barseso menjawab : "Apakah kamu tidak tahu bahwa membunuh itu dosa besar? Saya jelas tidak mau melakukannya", santrinya menjawab : "Bagaimana kalau berzina?". Santri tersebut gigih dalam menjerumuskan Barseso. Sang Kyai (Baseso) menjawab : "Tidak mungkin orang seperti saya mau melakukan perbuatan zina, karena hal tersebut juga Dosa besar."
Si Santri tambah semangat untuk memuluskan rencananya, "Kalau minum arak bagaimana?, itu dosa ringan dan mudah di ampuni oleh Allah, kata si santri dengan terus merayu si Barseso agar menuruti kemauannya.
Sampai akhirnya si Barseso menyetujui perkataan si santri untuk minum minuman keras demi bisa melakukan ibadah seperti yang santri lakukan, dengan asumsi bahwa minum arak adalah dosa ringan yang mudah meminta ampun kepada Allah. Si Santri gembira mendengar ajakan untuk menjerumuskannya mulai menampakkan hasil. Lalu si Barseso minum minuman keras,‎
Ringkas cerita, pada saat berpisah, setan mengajari Barseso doa-doa untuk menyembuhkan orang sakit dan gila. Kemudian setan putih itu mengganggu seorang gadis Bani Israil yang memiliki tiga saudara laki-laki. Dahulu bapak mereka adalah raja, setelah bapaknya meninggal, ia digantikan saudara laki-lakinya, yaitu paman gadis itu. Setan menyiksa dan mencekik gadis tersebut. Lalu setan datang kepada keluarga tersebut dan mengabarkan tentang Barseso yang mampu mengobatinya. Setan menyaratkan agar gadis itu ditinggal bersama Barseso dan mempercayakan kepadanya karena dia seorang ahli ibadah.
Pada awalnya Barseso menolak gadis itu untuk dititipkan padanya. Namun akhirnya, saudara-saudaranya membuatkan kuil dekat kuil Barseso dan meninggalkan saudara gadisnya di sana.
Setelah selesai shalat, Barseso melihat ada gadis cantik berada di dekatnya. Maka dia mulai jatuh hati dan tergoda. Lalu setan mengganggu gadis itu, lalu Barseso berdoa dengan doa yang diajarkan setan dahulu. Setan itupun keluar dan pergi dari gadis itu. Kemudian dia mulai shalat lagi, setan itu datang kembali dan mengganggu sang gadis. Maka tanpa sengaja tubuh gadis itu terbuka dan setan membisikkan Barseso, “Gaulilah gadis itu dan setelah itu kamu bisa bertaubat.” Dan setan pun berhasil, Barseso menggauli gadis tersebut sehingga gadis itu hamil dan terlihat mengandung.
Si Santri yang dari tadi menemaninya, berkata : "Kalau semua orang tahu kyai melakukan ini semua, pasti akan membuat kyai malu, sebaiknya bunuh saja sekalian ‎dan setelah itu kamu bisa bertaubat ‎Dan apabila keluarganya menanyakan, maka katakan pada mereka bahwa gadis itu dibawa kabur oleh setan yang telah mengganggunya dan kamu tidak kuasa melawannya.”‎".‎ ‎
Demi agar menghindari dari rasa malu akibat diketahui banyak orang, ‎ Maka Barseso masuk ke tempat gadis itu dan membunuhnya, lalu dikuburkan di lerang gunung. Pada saat Barseso mengubur gadis itu, setan datang dan menarik ujung pakaian gadis itu sehingga tidak tertimbun tanah dan nampak. Kemudian Barseso kembali ke kuil dan beribadah, tiba-tiba ketiga saudara gadis itu datang untuk menjenguk adik mereka. Mereka menanyakan keadaannya, “Wahai Barseso, apa yang telah kamu lakukan terhadap adik kami?” Dia menjawab, “Setan datang dan aku tidak mampu melawannya.” Maka mereka percaya dan pulang. Pada saat malam hari dalam suasana duka, setan datang dalam mimpi saudara gadis itu yang paling besar dan memberitahukan kejadian yang menimpa adiknya. Namun, orang tersebut tidak mempercayai mimpi itu dan meyakininya berasal dari setan. Setelah tiga malam berturut-turut datang dalam mimpi saudara paling besar tadi, namun tidak dihiraukan maka setan mendatangi kakak yang kedua dan ketiga, memberitahukan seperti yang disampaikan kepada kakak yang pertama. Kemudian ketiganya saling menceritakan apa yang dilihat dalam mimpi mereka dan ternyata sama. Lalu setan mendatangi mereka dan memberitahukan tempat dikuburnya adik mereka dengan ujung pakaiannya yang masih kelihatan. Lalu mereka pergi ke tempat yang ditunjukkan setan dan mendapati apa yang diberitakan olehnya.
Kemudian mereka pulang kepada keluarga dan familinya, lalu mendatangi kuil Barseso dengan membawa linggis dan kapak. Mereka menghancurkan kuil Barseso dan menangkapnya lalu dibawa di hadapan raja. Setan kembali membisiki Barseso, “Kamu membunuhnya kemudian kamu ingkar, akuilah perbuatan itu,” sehingga akhirnya Barseso mengakui perbuatannya. Lalu sang raja menjatuhkan hukuman mati kepadanya dengan disalib di kayu.
Si Santri jelmaan setan/iblis tersebut sangat senang demi melihat Barseso akan di hukum mati.
Dalam kepayahannya menanti hukuman mati disalib di kayu tersebut, si iblis kembali menawarkan bantuannya, agar terhindar dari hukuman mati. Terjadilah dialog singkat antara Barseso dengan si iblis. "Aku akan membantumu supaya kamu tidak jadi di hukum mati." demikian si iblis menawarkan bantuannya. Barseso yang sudah kepayahan dan ingin selamat dari hukuman mati tersebut, bertanya :"Apa yang harus aku lakukan?". Si iblis dengan semangat mengatakan : "Maukah kamu bersujud kepadaku (mengakui tiada Tuhan selain saya (iblis)?". Barseso yang sudah sangat ingin lepas dari hukuman mati tersebut, menjawab : "Bagaimana caranya? sedangkan aku dalam kepayahan dan disalib di kayu ini?". Barseso menyetujui kemauan si iblis."Caranya gampang, kamu hanya cukup memberikan isyarat dengan mengedipkan mata tanda setuju jika kamu mau bersujud kepadaku?. Maka sebelum terjadinya hukuman mati itu, dengan merasa takut akan kematian si Barseso mengabulkan kemauan si iblis dengan mengedipkan mata tanda setuju bahwa dia mau bersujud kepadanya (bersaksi bahwa tiada tuhan selain dirinya (iblis). Maka matilah si Barseso setalah disalib dengan tidak membawa iman islam. Astaqfirullah... Barseso akhirnya mati dengan Su'ul Khotimah.
Si iblis merasa menang dan berkata : "Wahai Barseso inilah yang aku kehendaki darimu, akhirnya kamu mengikutiku dan kafir terhadap Tuhanmu."  S‎esungguhnya aku berlepas diri dari perbuatanmu dan aku takut terhadap Tuhan semesta alam.” 
Allah Ta’ala berfirman dalam QS. Al-Hasyr: 16-17,
كَمَثَلِ الشَّيْطَانِ إِذْ قَالَ لِلْإِنْسَانِ اكْفُرْ فَلَمَّا كَفَرَ قَالَ إِنِّي بَرِيءٌ مِنْكَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ رَبَّ الْعَالَمِينَ  فَكَانَ عَاقِبَتَهُمَا أَنَّهُمَا فِي النَّارِ خَالِدَيْنِ فِيهَا وَذَلِكَ جَزَاءُ الظَّالِمِينَ
“Seperti (bujukan) syaitan ketika dia berkata kepada manusia: "Kafirlah kamu", maka tatkala manusia itu telah kafir ia berkata: "Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu karena sesungguhnya aku takut kepada Allah Tuhan semesta alam". Maka adalah kesudahan keduanya, bahwa sesungguhnya keduanya (masuk) ke dalam neraka, mereka kekal di dalamnya. Demikianlah balasan orang-orang yang dzalim.” (Diringkas dari Mashaibul Insan min Makaid syaithan oleh Syaikh al-Maqdisi al-Hanafi, Imam Thabari menyebutkan kisah Barseso ini dalam tafsirnya QS. Al-Hasyr: 16-17 dari jalur Ibnu Mas’ud, Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wa Nihayah Juz II)
Cerita di atas bisa menjadi renungan buat kita semua kaum muslim, agar kita senantiasa menjauhi segala larangan-laranganNya sekecil apapun karena syaitan akan terus menggoda kita dengan cara yang sangat halus, mulai dengan hal-hal kecil namun akhirnya terperangkap melakukan dosa besar. Semakin sedikit ilmu agama yang kita punya maka semakin mudah syaitan membujuk kita, walaupun juga betapa tinggi ilmu agama seseorang muslim, semakin tinggi juga godaan yang syaitan/iblis lakukan.
 
Pelajaran yang Bisa diambil;
1- Seorang Hamba hendaklah Berusaha untuk beribadah semaksimal mungkin.
2- Jangan ada rasa iri pada orang lain dan ingin memiliki.
3- Harus berpegang pada kaidah hukum agama (Qur'an dan Sunnah) dalam mengambil keputusan agar tidak mudah terjatuh pada lingkaran setan.
4- Seorang Kyai Hendak nya menjadikan anak didik (Santri) sebagai keluarga yang harus di lindungi.
5- Dalam menyayangi Santri seorang Kyai tidak boleh berlebihan dan harus dengan aturan Syar'i.‎
‎‎
Karena tipu daya syaitan sungguh luar biasa dan beragam caranya. Jika kita mempunyai pegangan ilmu yang baik, Insya Allah akan menyadarinya, dan berlindung kepada Allah subhanahu wa ta'alla dengan tetap teguh menjalankan segala tuntunan syariatNya.
Wallohul Waliyyut Taufiq Ila Sabilul Huda‎

Senin, 19 Juni 2017

Keutamaan Surah Alfatihah

Surah Al Fatihah – Surah Al Fatihah sering di sebut dengan ummul quran atau ibu dari al quran. Penyebutan tersebut tentu bukan sembarnagan disematkan, banyak sekali keutamaan dan manfaat dari surah yang satu ini jika kita dapat membaca dan mengamalkannya sebagai sebuah rutinitas. Surah Al Fatihah adalah surat pertama dalam Alquran sebagai penutup pintu neraka.

Adapun surah Al Fatihah merupakan sebuah surah yang paling sering dibaca oleh setiap Muslim, yang mana kita selalu membacanya sebagai syarat sah dan kewajiban dalam sholat fardhu, sesuai yang disabdakan Rasul Muhammad SAW :
ﻋَﻦْ ﻋُﺒَﺎﺩَﺓَ ﺑْﻦِ ﺍﻟﺼَّﺎﻣِﺖِ ﺃَﻥَّ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻗَﺎﻝَ ﻟَﺎ ﺻَﻠَﺎﺓَ ﻟِﻤَﻦْ ﻟَﻢْ ﻳَﻘْﺮَﺃْ ﺑِﻔَﺎﺗِﺤَﺔِ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏِ - ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ
Diriwayatkan dari ‘Ubadah bin Ash Shamit Bahwab Nabi Muhammad SAW bersabda " dimana shalat seseorang tanpa membaca Al-Fatihah maka tak akan diterima Allah SWT”, HR.Bukhari
Sesuai dengan hadis dan riwayat Nabi Muhammad SAW ini terlihat bertapa Al Fatihah mempunyai peranan begitu penting sampai membuat sholatnya seseorang tidak akan sah bila tidak membacanya.
Manfaat Membaca Surat Al Fatihah
Adapun Hadits yang Diriwayatkan oleh Imam Bukhari, No. 4474 dari Abu Said bin Al-Mualla yaitu, “Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda:
ﻟَﺄُﻋَﻠِّﻤَﻨَّﻚَ ﺳُﻮﺭَﺓً ﻫِﻲَ ﺃَﻋْﻈَﻢُ ﺍﻟﺴُّﻮَﺭِ ﻓِﻲ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥِ ﻗَﺒْﻞَ ﺃَﻥْ ﺗَﺨْﺮُﺝَ ﻣِﻦْ ﺍﻟْﻤَﺴْﺠِﺪِ ‏) ﺛُﻢَّ ﺃَﺧَﺬَ ﺑِﻴَﺪِﻱ ﻓَﻠَﻤَّﺎ ﺃَﺭَﺍﺩَ ﺃَﻥْ ﻳَﺨْﺮُﺝَ ﻗُﻠْﺖُ ﻟَﻪُ : ﺃَﻟَﻢْ ﺗَﻘُﻞْ ﻟَﺄُﻋَﻠِّﻤَﻨَّﻚَ ﺳُﻮﺭَﺓً ﻫِﻲَ ﺃَﻋْﻈَﻢُ ﺳُﻮﺭَﺓٍ ﻓِﻲ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥِ ؟ ﻗَﺎﻝَ : ‏( ﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠَّﻪِ ﺭَﺏِّ ﺍﻟْﻌَﺎﻟَﻤِﻴﻦَ ، ﻫِﻲَ ﺍﻟﺴَّﺒْﻊُ ﺍﻟْﻤَﺜَﺎﻧِﻲ ، ﻭَﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥُ ﺍﻟْﻌَﻈِﻴﻢُ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﺃُﻭﺗِﻴﺘُﻪُ ) .
Memiliki arti : “Aku akan ajarkan kepada kamu sebuah surat yang paling utama dalam Al-Qur’an sebelum engkau keluar dari masjid ini." Kemudian beliau memegang tanganku. Ketika ingin keluar [mesjid] saya katakan kepada beliau, “Tidakkah engkau mengatakan kepada aku akan mengajarkan kepadaku surat yang paling agung dalam Al-Qur’an?" Beliau menjawab, “Al-Hamdulillahi rabbil’alamin [Al-Fatihah], dia adalah As-Sab’ul Matsani [tujuh ayat yang diulang-ulang] dan Al-Qur’anul Azim yang diberikannya."
Rasulullah SAW mengajarkan tentang keutamaan surat Al-Fatihah yang mana surat Al-Fatihah menurut Rasulullah SAW merupakan surat paling agung semua surat di Al-Quran. Selain itu, beliau juga ingin mengajarkannya kepada Abu Sa’id. Berdasarkan Al-Imam Ibnu At-tin sendiri berkata dimana maksud dan tujuan mengapa Nabi Muhammad SAW berkata demikian karena surah Al Fatihah memang mempunyai keistimewaan yang lebih banyak daripada surat-surat lainnya di Al-Quran.
Terdapat beberapa manfaat surat Al-Fatihah, diantaranya yaitu :
1. Semua dosanya di dunia akan diampuni dan kebaikan orang yang membacanya akan diterima Allah SWT
2. Lidah orang-orang yang membaca akan terhindar dari panasnya api neraka jahanam dan terhindar dari kemurkaan Allah.
3. Surah Al-Fatihah juga bisa membuat kita berjumpa bersama Allah SWT,
4. Membebaskan kita dari siksa kubur.
5. Dapat memberikan keamanan bagi seseorang terhadap berbagai hal terkecuali dari kematian
6. Dapat memperoleh derajat lebih tinggi.
7. Dapat terbebas dari yang namanya kefakiran dan menyedekahkan emas pada jalan Allah.
8. Dapat menutup pintu neraka untuk orang yang membacanya.
9. Seolah-olah orang yang membacanya sudah membaca kitab taurat, injil, quran, zabur, suhuf Idris dan suhuf Ibrahim hingga 7 kali.
Amalan dengan Surah Al Fatihah
Selain itu terdapat pula beberapa amalan yang dapat dilakukan dengan membaca surah Al Fatihah seperti :
Apabila kalian membaca surat Al-Fatihah hingga 70 kali tiap hari dengan berwudhu maka ditiupkan air lalu diminum hingga 7 hari. InshaAllah akan dipermudah untuk mendapatkan ilmu pengetahuan serta bisa mengontrol pikiran dan hati dari segala hal yang negatif atau merusak pikiran.

Membaca surat Al-Fatihah ketika akan tidur, disertai membaca surat An-Naas, Al-Falaq dan Al-Ikhlas maka InshaAllah hatinya akan mendapatkan ketentraman serta dijauhkan dari semua gangguan jin maupun setan yang terkutuk.

Membaca surat Al-Fatihah hingga 20 kali sehabis melaksanakan shalat fardhu maka Insha Allah akan mendapatkan kelancaran rejeki dan memiliki derajat atau pangkat yang baik di masyarakat serta mendapatkan akhlak yang baik di dunia. Adapun selain itu, Allah akan mempermudah semua urusan hidupnya dan keluarganya pun akan memperoleh perlindungan dari Allah SWT.
Keutamaan Membaca Surat Al-Fatihah
Salah satu keutamaan surat Al-Fatihah lainnya ialah sebagai surah ruqyah. Al Fatihah sering kali dipakai saat akan melaksanakan ruqyah untuk seseorang atau membacakan mantra pada seseorang yang terkena gangguan jin atau setan.

Dahulu pada zaman Rasulullah sendiri penggunaannya agak berbeda. Surah Al Fatihah pernah dibacakan saat para sahabat dari Rasul hendak mengobati seseorang yang telah disengat oleh kalajengking. Hal tersebutlah yang kemudian menerangkan manfaat dari surat Al-Fatihah yang bertujuan untuk pengasihan atau obet. Tentunya dengan sebab atas izin Allah SWT dimana orang yang tersengat kalajengking tersebut akan sembuh, sesaat sesudah dibacakan surah Al Fatihah beberapa kali.

Selain itu, surah Al Fatihah ini mempunyai banyak petunjuk secara langsung ditujukan umat Muslim untuk melancarkan segala urusan mereka. Hal ini diperoleh lewat pengkajian yang mendalam pada surat Al-Fatihah secara khusus. Banyak sekali para ulama yang sudah menerbitkan kitab khusus yang membahas hal ini, dikarenakan ternyata ada banyak sekali yang dapat diambil pada surat Al-Fatihah ini.
Dengan berbagai penjelasan di atas tentang manfaat dan keutamaan surat Al-Fatihah, dapat kita simpulkan dimana surat Al-Fatihah ini memiliki khasiat yang begitu banyak bagi orang-orang yang membacakannya. Semoga kita selalu dimudahkan untuk selalu mengamalkan dan membaca surah yang begitu banyak memiliki manfaat ini. Sekian dan terima kasih, semoga bermanfaat!
Redaktur: Abdullah Istiqomah
Sebarkan Pada Sesama Manfaat dan Keutamaan Surah Al Fatihah yang Luar Biasa