Tentang KH KHolilurrahman
Seorang ulama dari Bangkalan, Jawa Timur. Ra Lilur dalam maqom jadab
(suatu tahapan untuk mencapai tingkat karamah (keistimewaan) yang
biasanya disebut wali,
Membakar Pondok Pesantren
Suatu ketika Ra Lilur tiba-tiba membakar bangunan pondok pesantren
yang diasuh KH. Abdullah Schaal Bangkalan Madura. Pesantren yang
lokasinya berdekatan dengan masjid Jami’ dan alun-alun kota Bangkalan
itu pun hangus dilalap api. Anehnya, Kiai Abdullah Schaal yang dikenal
sangat berpengaruh di Bangkalan itu diam saja. Ia tak bereaksi, apalagi
marah.
Mungkin Kiai Abdullah Schaal paham terhadap keistimewaan Ra Lilur
sehingga ia lalu diam saja, meski pondoknya dibakar Ra Lilur. Yang
pasti, kiai Abdullah Schaal sendiri tampak sangat hormat terhadap Ra
Lilur sebab Ra Lilur memiliki keistimewaan kasyaf luar biasa. Bahkan
kabarnya Ra Lilur sering memberi isyarat-isyarat kepada Kiai Abdullah
terutama tentang peristiwa-peristiwa yang akan terjadi. Biasanya, kalau
menyangkut persoalan besar, Ra Lilur minta Kiai Abdullah Schaal
hati-hati.
Setelah gubuk santri di pesantrennya dibakar, pesantren Kiai Abdullah
Schaal semakin maju pesat. Bilik-bilik santri yang semula berupa
gubuk-gubuk kini dibangun mentereng. Bahkan pesantren putri yang menyatu
dengan tempat istirahat Kiai Schaal persis hotel. Bangunannya megah dan
menjulang tinggi, penuh tingkat. Siapa pun yang tak pernah ke Madura
akan mengira bangunan itu hotel, karena memang didesain cukup artistik.
Wallahu A’lam Bishshowab. Setelah kejadian Ra Lilur membakar
pesantren itu kemudian terjadi peristiwa naas yang menimpa bangsa ini.
Banyak terjadi aksi pembakaran di mana-mana, Aksi anarki pembakaran ini
terjadi mengiringi konflik politik yang terus berkepanjangan di negeri
ini. Misalnya pembakaran pertokoan, kantor-kantor partai politik, dan
banyak lagi. Isyarat Ra Lilur itu kian kongkrit ketika terjadi
pembakaran yang dilakukan orang-orang Dayak terhadap gubuk-gubuk orang
Madura yang mengungsi dari Sampit dan Sambas.
Gus Dur Diganti Megawati
Isyarat itu muncul sekitar akhir tahun 2000. Jadi jatuh sebelum Gus
Dur benar-benar jatuh. Saat itu perilaku aneh Ra Lilur muncul secara tak
terduga. Ia tiba-tiba selalu diikuti dan ditempel oleh istrinya (nyai)
kemanapun pergi. Mau pergi kemanapun, ia terus dibuntuti oleh sang bu
nyai.
Selain itu, Ra Lilur selalu tidur satu kamar dengan istrinya. Namun
anehnya, Ra Lilur tidak tidur dalam satu tempat tidur (lencak, bahasa
Madura, red). Ia tidur terpisah dengan istrinya, meski dalam satu kamar.
Lebih aneh lagi, istrinya tidur diatas ranjang, sedangkan Ra Lilur
malah selalu tidur di tanah (Ra Lilur tidur di bawah), sedang istri
beliau di atas
Isyarat perilaku nyeleneh Ra Lilur itu terjawab sangat jelas.
Indonesia akhirnya terjadi pergantian kepemimpinan, dari Presiden pria
Gus Dur) ke Presiden wanita (Megawati). Isyarat ini masih bisa dirinci
lagi dalam kontek kekeluargaan. Yaitu istri hakikatnya wakil atau
pembantu suami dalam keluarga. Perilaku aneh itu merupakan isyarat
pergantian kepemimpinan dari pria ke pemimpin wanita. Sayangnya, waktu
itu tak ada yang tanggap terhadap isyarat yang terjadi lewat perilaku
aneh Ra Lilur itu. atau karena masyarakat kurang peka atau karena
isyarat aneh itu hanya diketahui kalangan terbatas. Yang pasti, isyarat
itu cukup nyata dan jelas.
Mengenakan Pakaian Serba Merah
Menjelang pemilu 1999, Ra Lilur tiba-tiba mengenakan pakaian serba
merah. Bajunya berwarna merah. Begitu ikat kepalanya, berwarna merah.
Lebih unik lagi, ia memakai sarung wanita yang juga berwarna merah pada
menjelang Pemilu. Ternyata isyarat itu kemudian terbukti. PDIP yang
warna kebesarannya merah menjadi pemenang Pemilu. Kalau Ra Lilur memakai
pakaian serba merah semata ingin menunjukkan bahwa pemenang pemilu 1999
adalah PDIP. Ra Lilur berasal dari keluarga fanatik NU dan PKB. Bahkan
semua anggota keluarganya pengurus dan warga PKB. Begitu juga keluarga
ndalem Ra Lilur, baik dari haddam (pembantu) sampai keluarga intinya,
pendukung berat PKB.
Masuk Hutan Pada Bulan Puasa
Ra Lilur bersama banyak orang masuk hutan pada bulan puasa. Begitu
tiba di dalam hutan ternyata adzan maghrib bergema. Orang-orang bingung.
Sebab tak ada makanan sama sekali untuk buat buka. Ra Lilur
mengisyaratkan agar tak resah. Tanpa diduga tiba-tiba terhampar tikar
semacam permadani. Yang menakjubkan, di atas tikar itu tersedia berbagai
macam makanan. Karuan saja orang-orang itu heran. Meski demikian mereka
tetap saja lahap berbuka puasa.
Menguasai Ilmu Kedokteran
Seorang dokter dari Malaysia bersama seseorang yang bertindak sebagai
pengantar sengaja datang untuk menemui Ra Lilur. Dokter itu diajak Ra
Lilur masuk ke dalam bilik rumahnya. Pembicaraan Ra Lilur dengan Dokter
itu cukup lama, sekitar satu jam. Sehingga pengantar dokter itu mengaku
capek menunggu di luar.
Menurut pengakuan sang dokter, Ra Lilur ternyata menguasai ilmu
kedokteran secara luar biasa. Semua ilmu kedokteran dia pahami. Yang
membuat si dokter kaget, Ra Lilur memberikan sebuah foto berukuran
poscard dengan pakaian putih lengkap dengan stetoskop tergantung di
leher. Sang dokter heran menerima foto Ra Lilur. “Kalau dipikir, kapan
beliau berpose seperti itu,” katanya.
Bersama Habib Dari Mojokerto
Habib Ali Zainal Abidin Bin Anis Al Muchdor (kelahiran Jember) pernah
menyaksikan keajaiban Ra Lilur. Tiga tahun lalu, dirinya bersama
istrinya, MN Hidayah, melanglang buana. Habib penasaran ingin bertemu Ra
Lilur. Ketika sampai di kediaman Ra Lilur, Habib diterima ajudan Ra
Lilur dan langsung mengutarakan maksud kedatangannya. Tak lama kemudian,
ajudan Ra Lilur mengatakan “Kiai tidak bisa menemuinya sekarang”, kata
ajudan.
Habib semakin penasaran. Namun Habib tak langsung pergi begitu saja.
Sambil merenung bagaimana caranya bertemu Ra Lilur. Habib kemudian pergi
ke sebelah samping rumah Ra Lilur. Saat berjalan di bawah rimbun bambu,
Habib teringat pesan salah satu gurunya untuk membaca Al-Fatihah di
tujukan kepada Nabi Muhammad SAW, para wali, dan Syaikhona Kholil
Bangkalan. Habib itu kemudian mengamalkan perintah tersebut di tutup
dengan permintaan saya, kalau kamu Ra Lilur memang cucu Kiai Kholil,
keluarlah, kata Habib.
Masyaallah. Tiba-tiba pundak Habib ada yang menepuk, Karuan saja
Habib terkejut dan menoleh, ternyata Ra Lilur. Ra Lilur berkata, ” Sudah
lama kita tak bertemu. Kamu yang saya tunggu beberapa hari ini.” Habib
Ali semakin tak percaya bahwa dirinya merasa tak pernah bertemu dengan
Ra Lilur.
Setelah itu Ra Lilur mengajak Habib duduk di atas gubug di tengah
sawah. Saat itu mereka ditemani salah satu ajudan Ra Lilur. Tiba-tiba Ra
Lilur berkata “Silakan susunya diminum.” Padahal tak ada pelayan yang
mengantarkan. Ajudan yang tadi menemani juga tak beranjak pergi.
Nelayan dan Jaringnya
Seorang nelayan di Kecamatan Sepulu sontak kaget. Karena jaring dia
tebar di tengah laut tiba-tiba terasa berat ketika diangkat. Nelayan
tersebut Harap-harap cemas menarik jaringnya. Dalam pikirannya, ini
pasti ikan besar. Begitu jaring itu berhasil diangkat ke atas. Nelayan
itu kaget dan tertegun, Masyaallah, ternyata bukan ikan, melainkan tubuh
Ra Lilur yang sedang membujur. Kontan nelayan itu menceburkan kembali
tubuh Ra Lilur ke laut.
Nelayan menduga, jangan-jangan Ra Lilur telah meninggal karena
tenggelam di laut. Tapi dugaan nelayan itu meleset. Karena Ra Lilur
sehat wal-afiat, tubuhnya tetap segar bugar sampai kini.
Menyaksikan kenyataan itu, nelayan semakin percaya bahwa Ra Lilur itu
waliyullah (kekasih Allah Swt). Sejak peristiwa itu hasil tangkapan
nelayan tersebut langsung melimpah. Setiap kali turun melaut, hasil
tangkapannya lebih banyak dari pada nelayan lainnya. Nelayan pun yakin
bahwa dirinya telah mendapat barokah. Yakni terus bertambahnya kebaikan.
Bukankah orang menyebut barakah sebagai zidayatul khoir (semakin
bertambahnya kebaikan).
Obat Maag Dan Puyer
Salah seorang warga pernah sakit tak komplikasi penyakit dalam
stadium akut. Bahkan sang pasien sudah hampir satu bulan opname di salah
satu rumah sakit swasta di Surabaya. Karena terapi penyembuhan
kedokteran tak ada perkembangan mengembirakan. Salah seorang anggota
keluarga pasien memutuskan untuk minta barokah La Lilur. “Kiai
memberikan obat maaq dan obat puyer sakit kepala, setelah diminum
Alhamdulillah sembuh,” tegas Salim, saudara si pasien menjelaskan.
Pil Mencret Atau Murus
Seorang penduduk desa terpencil sedih karena kehilangan sapi. yang
merupakan satu-satunya harta paling berharga bagi keluarganya. Karena
ingin sapinya kembali, dia sowan ke kediaman Ra Lilur untuk minta
barokah agar sapinya bisa kembali lagi. Ra Lilur langsung menemui
tamunya tersebut itu.
Padahal, tamu yang silaturrahmi ke Ra Lilur, biasanya baru bisa
ketemu minimal setelah tiga kali silaaturrahmi. Tapi, kali ini aneh. Ra
Lilur malah dengan senang hati membantu orang yang malang itu.
Warga yang kehilangan seekor sapi itu diberi pil mencret atau murus.
Tentu saja orang itu bingung dan dongkol. Sebelum pulang pil itu tetap
diminum sesuai petunjuk Ra Lilur. Meski demikian ia tetap saja
pikirannya tak bisa menerima.
Di tengah perjalanan menuju rumahnya, tiba-tiba perutnya mules. Orang malang tersebut pergi ke sungai untuk membuang hajat.
Ajaib, orang itu melihat beberapa ekor sapi ditambatkan di
semak-semak di sekitar sungai itu. Ketika diperiksa, salah satu sapi
yang ditambatkan itu adalah miliknya. Ia girang bukan main. Namun di
balik kegirangan itu ia juga merasa berdosa. Orang itu menyesal karena
hatinya sempat dongkol pada Ra Lilur ketika diberi obat murus.
Pengusaha Besi Kapok Datang
Seorang pengusaha besi tua bernama H. Hasan yang tinggal di Cililitan
Jakarta silaturrahmi ke rumah Ra Lilur. Pengusaha itu disambut ajudan
sekaligus dihadapkan kepada Ra Lilur. Hasan lantas menceritakan
masalahnya. Ra Lilur mendengar semua cerita Hasan. Namun yang membuat
Hasan tak habis pikir, ketika hendak pulang, ia diberi obat sakit kepala
Paramex.
Dengan diliputi tanda tanya, Hasan pulang ke rumahnya di Jakarta naik
bus, dalam perjalanan H Hasan terus berpikir mau diapakan obat ini.
Kenapa pula kiai memberi saya ini, gumam Hasan dalam hatinya.
Seminggu kemudian, H. Hasan ternyata tertimpa musibah. Usahanya rugi
Rp 100 juta. Isyarat Ra Lilur itu terjawab, “Rupanya itu maksud kiai
memberi obat,” kata Hasan tersenyum kecut. Sebulan kemudian, H. Hasan
mendapat kabar dari saudaranya di Tanah Merah, Madura bahwa abahnya
(ayah, red) terbaring sakit keras di atas pembaringan. Hasan pun
bergegas pergi menemui abahnya.
Hasan lantas menemui guru abahnya, yaitu Habib Sholeh Tanggul,
Jember. Habib Sholeh Tanggul meminta H. Hasan membawa tasbih. Tasbih
itu, selain untuk wirid
juga sangat manjur untuk mengobati orang sakit. Sesuai dengan pesan
guru, tasbih itu dicelupkan ke dalam segelas air. Selanjutnya, air bekas
celupan itu diminumkan kepada orang yang sakit. Semula, penyakit itu
memang berkurang. Badan abahnya sedikit enakan. Tapi itu tidak
berlangsung lama. Beberapa waktu kemudian, bapaknya kembali jatuh sakit.
H. Hasan pun segera beranjak pergi meminta do’a kepada Ra Lilur. Yang
tak membuat H. Hasan heran lagi, ketika Ra Lilur, memberinya kapas,
berikut minyak telon. Itu diberikan ketika H. Hasan hendak pulang.
Seperti sebelumnya, dalam perjalanan menuju rumah orang tuanya di
Tanah Merah, hati H. Hasan, diliputi tanda tanya yang hebat. Begitu tiba
di rumah abahnya, ia mendapati banyak orang menangisi kepergian orang
tua lelakinya itu. Rupanya, kapas dan minyak telon itu, sebagai
perlambang bahwa penyakit orang tuanya tak dapat disembuhkan. Akhirnya
H. Hasan pengusaha besi tua tersebut kapok bertemu Ra Lilur lagi.
Menikahi Wanita Penjemur Ikan
Di kawasan pesisir Bangkalan ada seseorang wanita yang sehari-harinya
membersihkan ikan. Wanita itu tak ubahnya seorang buruh. Ia tiap hari
membersihkan dan menjemur ikan milik orang. Ia hanya dapat upah sekian
rupiah dari jerih payahnya itu. Kesibukan di kawasan pesisir itu membuat
orang tak pernah memperhatikan wanita itu. Apalagi wanita itu memang
tampil seperti umumnya buruh. Masyarakat baru tahu wanita yang
sehari-harinya membersihkan ikan dan berpenampilan seperti umumnya buruh
itu dinikahi Ra Lilur.
Berita pernikahan Ra Lilur dengan wanita itu tersebar, masyarakat
seolah tak percaya dan mulai bertanya-tanya, dari mana asalnya wanita
tersebut. Sebab meski setiap hari bertemu dan berkumpul masyarakat di
sekitar pesisir itu tak ada yang tahu asal muasal wanita tersebut.
Masyarakat pun mulai geger. Wanita itu dianggap misterius karena tak
diketahui asal usulnya.
Begitu masyarakat heboh tiba-tiba muncul informasi bahwa wanita
tersebut berasal dari kesultanan Demak. Karuan saja masyarakat kembali
ramai. Akhirnya masyarakat di sekitar pesisir itu yakin bahwa wanita itu
berasal dari Demak. Yang juga unik wanita itu tetap sederhana meski
dinikahi Ra Lilur. Padahal ia telah jadi istri orang terhormat dan
disegani masyarakat. Bahkan Ra Lilur bukan saja disegani masyarakat tapi
juga dihormati para ulama. Toh istri Ra Lilur tetap bersahaja. Untuk
memenuhi kebutuhan sehari-harinya ia berjualan es lilin. Dagangannya itu
kadang dijajakan kepada para santri KH. Abdullah Schaal di Pesantren
Syaikhona Kholil Bangkalan.
Tiga Buah Korma Penawar Obat
Ra Lilur ternyata tak hanya piawai mendeteksi masa depan. Tapi ahli
mengobati orang sakit. Tak aneh jika banyak tamu yang minta tolong untuk
mengobati penyakitnya. Salah satunya, seorang kiai asal Surabaya yang
sudah puluhan tahun mengidap penyakit aneh.
Kiai ini sudah melanglang buana berkonsultasi dengan berbagai ahli,
baik ahli medis, maupun paranormal. Tapi hasilnya nol besar. Bahkan
pernah juga berkonsultasi ke KH. Ghofur, pengasuh ponpes Sunan Drajat
Paciran Lamongan. Juga gagal.
Namun kiai ini terus berikhtiar sembari tetap pasrah. Di
tengah-tengah kepasrahan itulah, tiba-tiba timbul wisik-wisik dari
seorang tamu yang agak aneh. Tamu itu menyarankan, agar meminta barokah
ke Ra Lilur. Tanpa pikir panjang, maka berangkatlah rombongan kiai itu
ke tempat pedepokan Ra Lilur di sebuah desa Banjar kecamatan Galis
Kabupaten Bangkalan. Ra Lilur langsung menemuinya. “Lenggi-lenggi pada
parlo napa (mari silakan duduk, ada maksud apa ke sini),” sapanya. Kiai
ini langsung mengutarakan niatnya serta menceritakan perjalanannya
berobat ke mana-mana, namun hasilnya nihil.
Mendengar keluhan itu, Ra Lilur langsung memberi tiga buah korma dari
dalam rumahnya. “Da’ar pa tada’ (silakan makan dihabiskan),” kata Ra
Lilur.
Saat dialog
itu tak begitu cair sebab Ra Lilur memang sering memperlihatkan suasana
yang sulit ditebak. Kadang-kadang tertawa, tapi kadang-kadang tak
banyak bicara. Mungkin saat itu, Ra Lilur paham, betapa menderitanya
kiai ini lantaran merasakan sakit menahun.
Usai menyuguhkan tiga korma, Ra Lilur memberi wejangan, agar kiai
tadi, berobat ke seorang dokter kiai di sebuah kawasan sekitar Pasar
Turi Surabaya. Kenapa disebut dokter kiai, karena dokter itu, selain
memberi obat, juga memberi bacaan-bacaan. Alhamdulillah, penyakit
menahun kiai sederhana itu akhirnya berangsur-angsur sembuh.
Penolakan Sopir Terhadap Ra Lilur
Ini merupakan peringatan keras kepada siapa saja yang melakukan
tindakan konyol dengan berkata kasar dan membohongi Ra Lilur. Kalau hal
tersebut dilakukan, bisa-bisa naas seperti peristiwa yang dialami
seorang sopir pick up.
Menurut ajudan Ra Lilur, H. Husni mengatakan, Husni bersama Ra Lilur
melakukan perjalanan dari Kecamatan Sepuluh menuju Desa Banjar Galis
Bangkalan Madura. Di tengah perjalanan, motor yang ditumpangi macet
karena mengalami kerusakan pada bagian mesin. Karena tak bisa
memperbaiki, Husni memutuskan untuk beristirahat seraya menunggu
tumpangan untuk Ra Lilur. Beruntung, setelah beberapa menit
beristirahat, ada sebuah mobil pick up melintas di sebuah jalan desa. Ra
Lilur kemudian meminta agar ajudannya menyetop mobil itu untuk ikut.
Namun setelah dicegat, sang sopir berkata kalau mobilnya tidak dibuat
angkutan. “Lok muwak (tidak mau muat, red),” kata sang sopir dengan
kasar.
Karena ditolak, Husni kembali istirahat sembari menunggu tumpangan
yang lain. Ternyata setelah beberapa meter dari tempat istirahat, mobil
yang dicegatnya tadi mengangkut beberapa karung kedondong milik
pedagang. Setelah kejadian itu, Husni tidak pernah berpikir apa yang
akan terjadi pada sang sopir di balik kata-kata kasar dan bohong yang
diucapkan kepada seorang kiai waliyullah itu.
Beberapa bulan berikutnya, Ra Lilur berniat untuk melakukan
perjalanan keliling kota Bangkalan. Seperti biasa, Ra Lilur
memerintahkan ajudannya untuk mencari mobil tumpangan. Tapi anehnya,
sebelum diperintah mencari mobil, Ra Lilur berpesan agar memilih mobil
pick up deretan ketiga dari belakang.
Perjalanan pun dilakukan, setelah sampai di daerah pesisir barat
Kecamatan Socah, Bangkalan, Ra Lilur berhenti. Ia langsung melakukan
perjalanan ke tengah laut. “Saya tidak tahu kemana kiai berjalan. Tapi
beliau terus berjalan hingga tidak kelihatan,” kata Husni.
Ditengah penantian tersebut, Husni ngobrol dengan sopir pick up yang
menjadi pilihan Ra Lilur. Ternyata, sang sopir bercerita panjang lebar
soal peristiwa yang pernah dialami temannya yang juga sopir pick up itu.
Dikatakan, setelah sopir pertama menolak permintaan Ra Lilur dengan
kata-kata kasar dan bohong, dia terus mengalami banyak peristiwa sial.
Mula-mula hasil uang dari nyopir itu selalu habis hanya untuk membayar
biaya tilang polisi. Berikutnya, dia terus mengalami sakit yang tak
kunjung sembuh hingga akhirnya meninggal. “Mantuan (paman haji, red),
sopir pertama yang pegang mobil ini meninggal setelah menolak permintaan
kiai,” kata sopir itu lirih.
Mendengar penjelasan itu, Husni teringat peristiwa yang pernah
dialaminya. Ternyata, Ra Lilur memilih mobil pick up pada deret ketiga
itu merupakan tebusan dari penolakan sopir yang pernah berkata kasar
itu. Karena sopir yang berkata kasar itu dulu juga menyopir mobil yang
sekarang dipakai itu.
Aparat Menangis
Anggota Polri berpangkat Perwira Menengah (Pamen) berpangkat Ajun
Komisaris Besar Polisi (AKBP) datang ke kiai yang dikenal punya kasaf
itu untuk minta tolong. Pamen rela bepergian tengah malam dengan sepeda
motor menuju desa Banjar untuk menemui Ra Lilur dengan maksud minta
tolong agar ditunjukkan tempat persembunyian Tommy. Namun Ra Lilur
sulit ditemui.
Sebelum menyampaikan keinginannya, selama tiga malam berturut-turut
petinggi polri itu melakukan wirid dan mengaji sampai menangis ketika
membaca Al-qur’an di mushallah milik H. Husni.
Ra Lilur mengatakan, untuk memburu Tommy sangat sulit, karena memang ada yang membuatnya sulit.
Dari jawaban Ra Lilur itu tersirat bahwa Tommy memang ada yang
melindungi. Karena itu mudah dipahami jika beberapa pihak ragu terhadap
upaya polisi menangkap Tommy. Bahkan kini muncul analisis bahwa gerakan
aparat yang mau menangkap Tommy itu sekedar basa-basi belaka, yakni
untuk meredam kekecewaan atau mengalihkan perhatian masyarakat dari
persoalan politik di tubuh Polri sendiri maupun seputar di Mega.
Perilaku Ra Lilur kian aneh. Sudah dua minggu, Ra Lilur mengunci diri
di sebuah gubuk di atas gunung. Bahkan pintu pagarnya pun digembok.
Sehingga, tamu yang hendak sowan ke Ra Lilur sulit untuk bertemu. “Ra
Lilur berkomunikasi hanya dengan tulisan tangan saja. Tapi kiai hanya
memberikan tulisan atau barang,” ujar haddam yang sudah mengabdi sejak
tahun 1989 ini.
Sumber : http://suramadunews.blogspot.com/2012/01/ra-lilur-waliyullah-asal-bangkalan_20.html
Selasa, 25 Juli 2017
Kisah Ulama’Kharismatik Cicit Mbah Kholil Bangkalan
About Unknown
Author Description here.. Nulla sagittis convallis. Curabitur consequat. Quisque metus enim, venenatis fermentum, mollis in, porta et, nibh. Duis vulputate elit in elit. Mauris dictum libero id justo.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Labels
- BAKSOS SMP (3)
- KEGIATAN lKSA (1)
- KYAI NYENTRIK (1)
- LKSA (1)
- LSA (2)
- MAJELIS MAULID (1)
- PONPES AL-HILAL (1)
- PROFIL YAYASAN (2)
- SMP PLUS (2)
- cerita guyon (1)
- foto kegiatan (1)
- teropong (3)

Tidak ada komentar:
Write komentar