[Syarh Rotibul Haddad] Tips Agar tidak Merasa Lebih Baik dari Orang Lain
Ngaji.web.id - C ara memandang orang lain untuk menghindari perasaan
sombong, ujub, dan merasa lebih baik. Ingat ! Ini cara memandang or...
Ngaji.web.id - Cara
memandang orang lain untuk menghindari perasaan sombong, ujub, dan
merasa lebih baik. Ingat ! Ini cara memandang orang lain, bukan
pandangan bagaimana seharusnya orang lain memandang kita, termuat di
Kitab Syarh Rotibul Haddad;
فاعتقادك في نفسك أنك خير من غيرك جهل محض ، بل ينبغي أن لا تنظر إلى أحد إلا ترى أنه خير منك وأن الفضل له على نفسك
Keyakinanmu
terhadap dirimu sendiri bahwa kamu lebih baik daripada orang lain itu
adalah murni sebuah kebodohan. Sebaiknya kamu tidak memandang terhadap
orang lain kecuali kamu melihatnya lebih baik pada dirimu dan segala
keutamaan baginya, tidak bagimu.
ﻓﺎﻥ رأيت ﺻﻐﻴﺮﺍ ﻗﻠﺖ : ﻫﺬﺍ ﻟﻢ ﻳﻌﺺ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺍﻧﺎ ﻗﺪ ﻋﺼﻴﺖ ﻓﻼ ﺷﻚ ﺍﻧﻪ ﺧﻴﺮ ﻣﻨﻲ .
Jika
kamu melihat anak kecil, maka ucapkanlah dalam hatimu, " anak ini belum
bermaksiat kepada Allah, sedangkan diriku telah banyak bermaksiat
kepadaNya. maka tidak diragukan lagi bahwa anak ini jauh lebih baik
dariku ”.
ﻭﺍﻥ رأيت ﻛﺒﻴﺮﺍ ﻗﻠﺖ : ﻫﺬﺍ ﻗﺪ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﻗﺒﻠﻰ ﻓﻼ ﺷﻚ ﺍﻧﻪ ﺧﻴﺮ ﻣﻨﻲ .
Jika
kamu melihat orang tua, maka ucapkanlah dalam hatimu, "dia telah
beribadah kepada Allah jauh lebih lama dariku, maka tidak diragukan lagi
bahwa dia lebih baik dariku ”.
ﻭﺍﻥ رأيت ﻋﺎﻟﻤﺎ ﻗﻠﺖ : ﻫﺬﺍ قد أﻋﻄﻲ ما لم أعط وبلغ ما لم أبلغ وعلم ما جهلت فكيف أكون مثله
Jika
kamu melihat seorang yang berilmu, maka ucapkanlah dalam hatimu," orang
ini telah diberi ilmu yang mana saya belum diberi, orang ini telah
menyampaikan ilmu apa yang belum saya sampaikan, dan ia telah mengetahui
apa yang tidak saya ketahui, bagaimana mungkin saya sama dengannya?
(apalagi saya lebih baik darinya?)”.
ﻭﺍﻥ رأيت ﺟﺎﻫﻼ ﻗﻠﺖ : ﻫﺬﺍ قد ﻋﺼﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﺠﻬﻞ ﻭﺍﻧﺎ ﻋﺼﻴﺘﻪ ﺑﻌﻠﻢ فحجة الله علي آكد ﻭﻻ أﺩﺭﻱ ﺑﻤﺎ ﻳﺨﺘﻢ ﻟﻰ ﺍﻭ ﺑﻤﺎ ﻳﺨﺘﻢ ﻟﻪ .
Jika
kamu melihat seorang yang bodoh, maka katakanlah dalam hatimu, " orang
ini bermaksiat kepada Allah kerana dia bodoh (tidak tahu), sedangkan aku
bermaksiat kepadaNya padahal aku mengetahui akibatnya. Dan aku tidak
tahu bagaimana akhir umurku dan umurnya kelak .
ﻭﺍﻥ
رأيت ﻛﺎﻓﺮﺍ ﻗﻠﺖ : ﻻ أﺩﺭﻱ ﻋﺴﻰ ﺍﻥ ﻳﺴﻠﻢ ﻓﻴﺨﺘﻢ ﻟﻪ ﺑﺨﻴﺮﺍﻟﻌﻤﻞ وينسل بإسلامه من
ذنوبه كما تنسل الشعرة من العجين وأما أنا والعياذ بالله فعسى أن يضلني
الله فأكفر ويختم لي بشر العمل فيكون غدا من المقربين وأنا من المبعدين .
Jika
kamu melihat orang kafir, maka katakanlah dlm hatimu," aku tdk tau apa
yang akan terjadi, bisa jadi dia memeluk islam, mengakhiri hidupnya dgn
perbuatan baik, ia bebas dari dari dosa-dosanya. Sedangkan saya (wal
'iyadzu billah) mungkin Allah akan memberikan aku jalan sesat, lalu aku
kafir dan aku mengakhiri hidupku dengan perbuatan buruk, maka kelak ia
(orang kafir yang telah masuk Islam) termasuk orang-orang yang dekat
denganNya, sedangkan aku termasuk orang-orang yang jauh dariNya ."
Sretttttt.
Ada tambahan bahwa jika kita semua telah bisa memandang orang lain
seperti apa yang termuat di atas, maka jangan lah sudah merasa tawadhu',
walaupun memang pandangan yang semacam di atas adalah supaya bisa
tawadhu', menghindari takabur. Jangan merasa sudah tawadhu'.
Syaikh Ibnu Atalhoillah As-sakandari dalam Hikamnya mengatakan ;
من أثبت لنفسه تواضعا فهو متكبر حقا
"Barang siapa telah menetapkan/menyatakan dirinya telah tawadhu', maka ia adalah orang takabur yang sesungguhnya"
[Kang Mang li]

Tidak ada komentar:
Write komentar